Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 5, 2011

Jauhkan Guru dari Politik

Jauhkan Guru dari Politik

Sekjen Ikatan Guru Indonesia Moh Ihsan dan Ketua Umum mengapit Prof. Dr. Mohammad Surya (tokoh PGRI) di acara deklarasi IGI Wilayah Jawa Barat di Bandung

Jakarta, http://www.wartablora.com –  Sekjen Ikatan Guru Indonesia Moh Ihsan menyatakan guru harus dijauhkan dari politik kekuasaan. “Selama ini guru menjadi komoditas politik. Organisasi serikat guru justru ditunggangi anasir-anasir politik untuk kepentingan kekuasaan mulai dari pusat hingga daerah-daerah. Ke depan, guru harus steril, harus netral dan harus dijauhkan dari semua kepentingan politik kekuasaan,” tegas Sekjen IGI Moh Ihsan dalam rilisnya yang diterima wartablora.com, Senin, 4 Juli 2011.

Di sela-sela seminar bertajuk “Penataan Guru di Masa Depan” yang diselenggarakan oleh Balitbang Kemdiknas di Hotel Aryadhuta, Tangerang, Ihsan kembali mengatakan, selama ini kualitas guru dipertaruhkan. Hasil penelitian Kemdiknas yang dilansir 2006 hingga saat ini tidak banyak perubahannya ialah bahwa lebih dari 50% guru tidak layak mengajar. “Ini menunjukkan selama ini pemerintah kurang menekankan pada kualitas guru. Sementara organisasi guru sibuk mempolitisasi guru, mengajak demo di jalanan dan seterusnya,” tambah Ihsan.

Peran pemerintah untuk meningkatkan kapasias guru menjadi sangat penting. Karena itu, IGI meminta sertifikasi guru harus betul-betul hanya diberikan kepada guru yang profesional. “Sertifikasi guru bukan tunjangan yang bersifat bantuan atau hadiah, tetapi sebuah pengakuan dan penghargaan bahwa guru penerima sertifikasi telah profesional,” tuturnya.

Menurutnya, selama ini, guru diarahkan sebagai buruh dan bukan profesi. Mereka dipaksa masuk organisasi buruh dan bukan organisasi profesi. “Guru itu profesi mulia bukan buruh pabrik karena guru berfungsi mendidik manusia bukan membuat sandal jepit,” tandasnya.

Di sinilah peran sentral organisasi profesi guru. “UU Guru dan Dosen mewajibkan guru masuk ke dalam organisasi profesi dan bukan organisasi buruh. Organisasi yang berada di bawah ILO adalah organisasi buruh. Mereka tidak memperjuangkan guru sebagai sebagai profesional,” tambahnya.

IGI, lanjutnya, lahir sebagai organisasi profesi guru yang bertujuan meningkatkan mutu dan profesionalitas guru. “IGI didirikan oleh guru profesional dan akan terus menjadi pelopor profesionalitas guru.”

Pensiun

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sambutannya menyatakan, “Sekitar setengah juta guru akan pensiun dalam 10 tahun ke depan. Ini angka yang besar sekali. Tapi di satu sisi, ini adalah kesempatan yang baik, karena kita bisa menggantinya dengan guru yang lebih baik, lebih profesional”.

Menurutnya, jika nanti semua guru sudah lulus sertifikasi, jumlah uang yang digunakan untuk memberi TPP adalah Rp 70 triliun. “Kalau sudah keluar anggaran sebesar ini kualitas pendidikan masih kurang baik, tentu dana besar ini akan sia-sia. Dan kita tidak ingin itu terjadi. Oleh karena itu, kebutuhan akan guru yang profesional ini mutlak,” imbuhnya. (*)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: