Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 11, 2011

”Selisih” Guru Dulu dengan Guru Sekarang

”Selisih” Guru Dulu dengan Guru Sekarang

Oleh : Nara Akhirullah
Kompasianer – Penulis Kompasiana

APA bedanya guru zaman dulu dengan guru sekarang? Pertanyaan itu dilontarkan Wakil Bupati Sampang (Madura) Fannan Hasib pada saya dalam sebuah pertemuan. Saat saya terlihat bingung dia baru menjawab pertanyaan itu. “Guru dulu, sekarang sudah tua,” ujarnya seraya tersenyum.

Joke wakil bupati itu bagi saya bukan lelucon biasa. Sebab, selain disampaikan seorang wakil bupati, joke itu sempat membuat saya berpikir keras untuk menjawab serius. Waktu itu saya yakin sang wakil bupati akan menjawab beda guru dulu dengan guru sekarang secara serius. Sebab dia juga guru, kiai di pesantren dan ulama di lingkungannya.

Saya tidak kecewa atas jawabannya yang ringan dan membuat tersenyum itu. Karena sekarang memang banyak yang mempertanyakan perbedaan guru dulu dengan guru sekarang secara serius. Itu berarti butuh jawaban serius juga.

Di musim lulusan anak sekolah seperti sekarang, cerita tentang guru cukup menarik disimak. Mulai dari upaya mereka memersiapkan bekal intelektual siswa-siswinya menghadapi ujian nasional (unas) hingga mengatrol nilai siswanya. Guru juga digosipkan tak hanya membantu kesiapan intelektual tapi juga mengerjakan soal unas lalu didistribusikan ke peserta unas. Loh yang unas siswa atau gurunya? Mudah-mudahan hanya gosip.

Nah, atas jasa-jasanya itu permintaan guru pada muridnya mulai macam-macam. Kebetulan saya punya tiga keponakan yang sekarang mau SD dan SMP. Mereka cerita pada ibunya yang tidak lain adalah kakak-kakak saya. Ceritanya cukup seru, mulai dari urusan rekreasi perpisahan sampai sumbangan beli kenang-kenangan.

Hal yang paling umum adalah cerita tentang urusan rekreasi. Keponakan-keponakan saya itu bilang pada ibunya bahwa mereka harus ikut rekreasi. Biayanya tidak sedikit, masing-masing harus bayar Rp 400-500 ribu untuk ikut rekreasi itu. Padahal para orang tua sudah bingung urusan pendaftaran, uang gedung, seragam dan buku baru di sekolah baru.

Memangnya kenapa kalau tidak ikut rekreasi? Mereka mengaku diancam dan itu hal biasa karena sering saya dengar selama hampir empat tahun jadi jurnalis. Ancamannya, untuk yang SD tidak akan bisa ikut ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN). Ancaman lainnya (termasuk yang SMP), murid yang tidak ikut rekreasi tidak akan menerima ijazah. Sebab, ijazah akan dibagikan di lokasi rekreasi.

Cerita satu lagi tentang kenang-kenangan kelulusan dari murid untuk guru. Ketiga keponakan saya itu bilang pada orangtuanya bahwa mereka harus sumbangan uang untuk membeli kenang-kenangan.

Kenang-kenangan apa sih? Keponakan saya yang akan lulus SMP belum menentukan kenang-kenangan apa yang akan diberikan. Katanya bebas, tapi harganya tidak kurang dari nominal tertentu.

Yang lucu keponakan saya yang mau lulus SD, gurunya minta laptop. “Laptop apa saja, yang penting dua hari tidak rusak,” begitu kata keponakan saya menirukan ucapan gurunya. Salah satu keponakan saya ditunjuk jadi koordinator sumbangan untuk beli kenang-kenangan itu. Katanya, masing-masing murid minimal sumbangan Rp 100 ribu. Ada 40 siswa di kelas keponakan saya itu.

Mendengar cerita kakak-kakak saya dari anak-anaknya membuat saya sedikit banyak tahu tentang ”selisih” atau ”beda” guru dulu dengan guru sekarang yang sebenarnya. Tidak hanya sekadar guru dulu sekarang sudah tua, tapi lebih berat dari itu.

Untuk membahas guru zaman dulu rasanya tidak perlu mundur terlalu jauh sampai zaman ibu dan ayah saya saat sekolah. Cukup mundur ke tahun 1997, 2000 dan 2003. Itu adalah tahun-tahun saya lulus SD, SMP dan SMA.

Mulai lulus SD sampai SMA saya tidak pernah ikut rekreasi perpisahan sekolah. Orang tua saya tidak punya uang untuk membayar biaya rekreasi. Toh, saya tetap bisa ikut Ebtanas (sebutan unas saat saya sekolah) dan mendapatkan ijazah kelulusan. Tidak ada ancaman atau paksaan. Satu-satunya yang paling menyakitkan adalah ada pertanyaan dari teman sebaya. “Kamu tidak ikut rekreasi ya? Padahal seru loh, banyak yang ikut.”

Melihat murid-muridnya tertawa lebar karena lulus adalah kebahagiaan tersendiri para guru zaman saya sekolah. Di setiap upacara kelulusan, pidato yang paling saya ingat adalah permintaan para guru agar selalu dikenang dan disapa jika bertemu di jalan.

Biasanya kepala sekolah yang menyampaikan pidato itu sambil meneteskan air mata. Suasananya begitu haru, tak ada yang bisa menahan air mata. Saat satu per satu siswa salim, tak lupa para guru selalu mengingatkan agar kami rajin belajar dan berbakti pada orang tua.

Apa kenang-kenangan dari murid? Ada yang memberikan hem batik, pulpen sederhana sampai sarung-kopyah atau mukena lengkap dengan sajadahnya. Kalau di kelas itu ada anak orang kaya, hasil sumbangan bisa dipakai beli jam tangan yang agak mahal atau untuk mencetak foto kami sekelas lalu dibingkai ukuran besar.

Tidak mudah memberikan barang-barang kenangan itu. Para guru sering menolak sambil menitikkan air mata. “Bukan ini yang kami harapkan, kami hanya minta kalian tetap rajin belajar dan berbakti pada orang tua,” kata mereka. Saya tidak heran kalau Sartono sampai membuat Himne Guru berjudul Guru tanpa Tanda Jasa.

Begitulah bedanya guru dulu dengan guru sekarang. Di samping perbedaan-perbedaan itu, guru sekarang juga gajinya lebih besar (meski masih ada saja guru tidak tetap yang gajinya superkecil) daripada guru zaman dulu. Tapi, Himne Guru berjudul ”Pahlawan tanpa Tanda Jasa” terus berkumandang.

Tentu yang saya tulis ini tidak berlaku bagi semua guru. Saya meyakini masih banyak guru yang amat baik dan berdedikasi tinggi pada pendidikan anak bangsa. Mungkin itulah alasan Sartono (pencipta Himne Guru: Pahlawan tanpa Tanda Jasa) tidak mengubah syair lagu dan judulnya menjadi kebalikannya.

[ Sumber: Kompasiana ]
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

guru.mp3


Responses

  1. Duh terharu baca ceritanya, guru tak hanya menjadi teladan disekolah tapi juga di lingkungan masyarakat

  2. Tidak semua guru begitu, jangan hanya segelintir manusia yang berbuat begitu, semua guru kena jeleknya.

  3. Saya sangat setuju dengan tulisan Anda.

  4. […] Untuk membahas guru zaman dulu rasanya tidak perlu mundur terlalu jauh sampai zaman ibu dan ayah saya saat sekolah. Cukup mundur ke tahun 1997, 2000 dan 2003. Itu adalah tahun-tahun saya lulus SD, SMP dan SMA. … Selengkapnya […]

  5. […] Untuk membahas guru zaman dulu rasanya tidak perlu mundur terlalu jauh sampai zaman ibu dan ayah saya saat sekolah. Cukup mundur ke tahun 1997, 2000 dan 2003. Itu adalah tahun-tahun saya lulus SD, SMP dan SMA. … Selengkapnya […]

  6. hihihiihiihihii, pertanyaan awal santai tapi tepat sasaran..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: