Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 29, 2011

Tak Ada Perintah Meminta Maaf

Tausiah :

Tak Ada Perintah Meminta Maaf

Oleh : HAGI
Sebentar lagi, Ramadhan kita tinggalkan. Insya Allah, rahmat dan ampunan, juga dijauhkannya kita dari api neraka, akan kita dapatkan apabila momentum Ramadhan bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Selanjutnya, ‘Idul Fitri telah menanti. Di situlah kita mendapat kesempatan untuk memulai lembaran baru kehidupan. Mendapatkan keadaan seperti saat kita terlahir ke dunia, suci, bersih dari dosa dan kesalahan. Jika Ramadhan membersihkan dosa kepada Sang Khalik, maka ‘Idul Fitri merupakan saatnya melebur dosa antara kita, sesama umat-Nya.
Leburnya dosa antarsesama manusia, bisa tercapai apabila masing-masing saling memberi maaf. Mengapa tidak saling meminta maaf? Bagi yang merasa bersalah, meminta maaf adalah perkara mudah. Ya, meski terkadang sulit juga mengakui kesalahan, sehingga cenderung tak mau meminta maaf. Tapi memberi maaf jauh lebih sulit lagi. Karena diperlukan ketulusan hati dan kelapangan dada. Inilah yang diharapkan Allah agar dicapai manusia.
 
Menurut pengamatan M Quraish Shihab terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, tidak ditemukan perintah Allah kepada manusia untuk meminta maaf. Yang ada adalah perintah atau permohonan untuk memberikan maaf.
“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [QS 7: 199].
Ketiadaan perintah meminta maaf, bukan berarti yang bersalah dengan sendirinya terbebas dari meminta maaf. Justru, tak adanya perintah itu disebabkan karena Al-Qur’an sudah menganggapnya sebagai suatu kewajiban.
Al-Qur’an lebih perlu untuk mendorong dan menuntun manusia agar memiliki budi pekerti luhur. Yaitu, manusia yang sudah tak lagi menunggu orang yang bersalah datang bersimpuh dan bercucuran air mata untuk meminta maaf, tetapi, memberinya sebelum itu. Di samping itu, perintah untuk meminta maaf, boleh jadi terkesan adanya pemaksaan. Sedangkan, permintaan maaf hendaklah dilakukan dengan hati yang tulus dan dengan penuh kesadaran tentang kesalahan yang telah dilakukan.

Sikap orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain, mendapat tempat yang mulia di hadapan Allah. Setelah sebelumnya menggambarkan sekelumit tentang surga, Allah berkalam tentang ciri orang-orang yang menghuninya:

“[Yaitu] mereka yang menafkahkan [hartanya], baik di waktu lapang maupun sempit, dan yang mampu menahan amarah dan memaafkan [kesalahan] orang. Allah menyukai orangorang yang berbuat kebajikan.” [QS 3: 134].

Membalas perlakuan orang yang berbuat tidak baik kepada kita dengan balasan yang setimpal, memang diperbolehkan. Namun demikian, memaafkannya akan lebih baik. Ketika Rasulullah Saw mengetahui gugurnya paman beliau, Hamzah Ibn ‘Abdul Muththâlib dan setelah gugur, hidung dan telinganya dipotong, perutnya dibedah dan hatinya dikunyah oleh musuh, Beliau bersabda:

“Jika Allah menganugerahkan kepadaku kemenangan atas kaum musyrikin Quraisy, pada salah satu pertempuran, maka pasti akan kubalas [kematian Hamzah itu] dengan tigapuluh orang musyrik.”

Ketika itu pula, Allah menegur dengan firman-Nya:

“Dan apabila kamu membalas, maka balaslah persis sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi para penyabar.” [QS 16: 126].

Selanjutnya, teguran Allah tersebut tak hanya ditujukan kepada Rasul Saw, tetapi untuk kita semua, seluruh umat Islam.

Memaafkan, resep hidup sehat dan bahagia

Menjadi pemaaf tak saja mendapat tempat yang mulia di hadapan Allah swt yaitu surga yang selalu dilimpahi rahmat dan anugerah-Nya tanpa henti. Ternyata, menjadi pemaaf itu juga mendatangkan kebaikan di dunia. Para ilmuan Amerika membuktikan bahwa orang yang mampu memaafkan, memiliki jiwa dan raga yang lebih sehat. Gejala-gejala kejiwaan dan kondisi tubuh yang kurang sehat, seperti sakit punggung akibat stres [tekanan jiwa], susah tidur, dan sakit perut sangat berkurang pada orang -orang yang pandai memaafkan.

Lebih jauh, dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], DR Frederic Luskin, Direktur Stanford Forgiveness Project, mengatakan bahwa orang yang memelihara kemarahan tingkat rendah sepanjang waktu, tak pernah mengenal seperti apa sikap yang normal itu. Kondisi demikian akan membuat semacam aliran adrenalin yang selalu membakar tubuh sehingga ia sulit untuk berfikir secara jernih. Setiap sikapnya akan selalu memperburuk keadaan.

Dalam kondisi normal, orang akan cepat tersadar setelah amarahnya meledak. Karena, amarah tersebut menimbulkan ketidakseimbangan secara emosi. Kesadaran akan gangguan itu, akan mendorong orang untuk berusaha memperbaiki keadaan atau hubungan dengan orang lain. Sikap sadar ini diambil karena setiap orang tak akan mau menghabiskan waktu dan hidupnya demi menuruti nafsu amarah dan kegelisahan. Dorongan naluri [fitrah manusia] yang selalu menginginkan kehidupan yang baik dan bahagia, menggerakkannya untuk memberi maaf, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. [it’s Friday]
———-
Download artikel ini dalam format file word document [klik disini]


Responses

  1. Maaf lebih baik dari pada pergi ke pengadilan, kalau anda tahu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: