Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 24, 2011

Orang Tua Pembangun Utama Pendidikan Karakter Anak

Orang Tua Pembangun Utama Pendidikan  Karakter Anak

Oleh :  Drs.Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo DIY

Dalam masyarakat kita, sering ada anggapan bahwa tugas seorang ayah bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan tugas seorang ibu membimbing dan mendidik anak serta mengurusi pekerjaan rumah tangga. Anggapan seperti itu pun mengalami perkembangan dua arah. Arah yang pertama, ada seorang ayah yang mempertahankan anggapan itu sehingga tidak mau tahu urusan perawatan anak. Dalam pandangan ini ayah tidak mau menggendong, memandikan, mengganti pakaian, menghibur anak dan tidak menyediakan waktu untuk membantu pekerjaan urusan dapur dalam suasana keluarga repot sekali pun. Arah yang kedua, seorang ayah yang toleransi terhadap tugas ibu rumah tangga dengan rasa senang bersedia merawat, berkomunikasi dengan anak dan mau membantu mencuci pakaian keluarga.

Untuk menjaga keutuhan keluarga, arah yang ke dua di atas cenderung untuk berkembang. Tentu hal ini sangat berhubungan dengan pendidikan, wawasan dan sikap seorang laki-laki / ayah. Pendidikan yang dimiliki seharusnya dapat mengantarkan wawasan bahwa ayah merupakan pemandu, pendidik, pemimpin dan pelindung keluarga.

Anak merupakan bagian dari keluarga. Oleh karenanya secara alami peran ayah terhadap anak tak bisa  dilimpahkan begitu saja kepada ibu. Sikap ayah akan berpengaruh terhadap pribadi anak. Kehadiran ayah di depan anak mempunyai kontribusi  yang signifikan terhadap sikap dan watak seorang anak. Sigmund Freud, ahli   psikoanalisis  yang  terkenal  itu  berpendapat   bahwa  ayah  merupakan  tokoh identifikasi bagi anak,  sementara  anak  menjadikan pribadi ayah sebagai  tolok ukur atau perbandingan bagi perilakunya sendiri. Tentu saja dengan tiadanya seorang ayah di sisi anak akan mengurangi kesempatan anak untuk memperoleh berbagai pengalaman yang mempengaruhi masa depannya. Anak akan miskin pengalaman.

Anak merupakan karunia Allah SWT yang diberikan kepada pasangan suami isteri. Anak pulalah sebagai buah hati suami isteri yang mendambakannya. Di tangan anak, masa depan bergantung. Maka tidak keliru apabila anak diposisikan sebagai  aset masa depan.  Dengan demikian anak mempunyai hak hidup yang layak untuk masa depan sebagaimana seorang ibu dan ayahnya. Dari sinilah timbul suatu tanggung jawab orang tua terhadap anaknya  untuk mempersiapkan masa depan anak. Termasuk di dalamnya yang terpenting adalah pembentukan pribadi anak melalui pendidikan berkarakter.

Menyadari hal inilah mengingatkan ayah untuk tidak sekedar menanamkan benih kepada isteri melainkan tugas mendidik dan membesarkan anak merupakan tanggung jawab ayah yang tak terhindarkan. Membentuk anak agar mempunyai kepribadian yang baik sesuai dengan norma – norma yang berlaku tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Prosesnya cukup panjang dan membutuhkan wawasan pendidikan serta strategi yang tidak asal jalan.  Tugas ini tidaklah enteng sehingga apabila semuanya dilimpahkan kepada seorang ibu akan merupakan beban berat  baginya. Tugas berat itulah yang disebut proses mendidik anak.

Pendidikan untuk anak harus kita lakukan. Proses ini bertujuan untuk membimbing anak ke arah kedewasaan supaya anak dapat memperoleh keseimbangan antara perasaan dan akal budaya serta dapat mewujudkan keseimbangan dalam perbuatannya kelak. Dalam teori tabularasanya John Lock, seorang bayi diibaratkan kertas putih bersih tak berwarna, apa yang kita goreskan maka itulah hasilnya. Hadits Nabi juga menyatakan bahwa, “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci bersih, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani dan Majusi” (HR. Muslim).

Walaupun tidak sepenuhnya pendapat John Lock di atas harus dianut, setidaknya memberi pemahaman kepada kita bahwa pendidikan ( terlebih pendidikan agama ) sangat penting kita berikan kepada anak. Dan orang tua  menurut hadits di atas adalah ibu dan ayah. Anak yang kita didik dengan rasa senang, ikhlas dan menurut rel Al-Qur’an, insya Allah anak kita menjadi anak saleh, anak yang dibanggakan setiap orang  muslim.

Untuk membentuk anak yang saleh, dibutuhkan  pendidikan yang terarah sebagaimana diajarkan Al-Qur’an. Pendidikan agama, pendidikan budi pekerti dan pendidikan moral perlu ditanamkan sejak sedini mungkin kepada anak sehingga terbentuk karakter anak yang jelas menjadi dambaan orang tua, nusa, bangsa dan agamanya.

Dalam Al-Qur’an, suratLuqman dikenal sebagai pedoman pendidikan bagi orang tua muslimin yang ingin memberikan wasiatnya kepada putra-putrinya. Terkandung beberapa anjuran yang kemudian menjadi kewajiban bagi setiap anak sebagaimana yang diuraikan di dalamsuratLuqman tersebut. Anak diwajibkan bersyukur kepada Allah, tidak diperkenankan mempersekutukan Allah, berbakti kepada ibu bapak, berbuat baik kepada siapa pun didasari atas pengertian bahwa Allah tetap akan membalas-Nya walau pun kebaikan itu sebesar biji sawi atau bergantung di langit, mendirikan shalat, mencegah perbuatan yang keji dan mungkar, bersabar, tidak bersikap angkuh dan sombong serta agar bersikap sederhana.

Atas dasar itulah kiranya kita selaku pengikut kitab Allah, Al-Qur’an secara mantap menanamkan sikap-sikap terpuji seperti yang terkandung dalam surat Luqman ayat 12–19  kepada anak-anak kita. Penanaman sikap-sikap yang penuh moral seperti di atas hendaknya diberikan ketika anak itu masih kecil. Artinya jangan sampai terlambat sehingga anak tidak terlebih dahulu terisi oleh pengaruh luar yang kurang menggembirakan.

Dalam berperilaku, biasanya anak  mengambil contoh tauladan dari  perilaku orang yang dilihatnya. Tak mengherankan apabila orang yang terdekatlah sebagai sosok idola bagi perilaku anak. Dan orang terdekat itulah  ibu dan bapak. Anak-anak itu merupakan peniru terbesar di dunia ini. Mereka terus-menerus meniru apa yang dilihat dan menyimpan apa yang didengar. Sebutir contoh tauladan perilaku yang baik lebih efektif guna membelajarkan anak daripada seabrek kata-kata. Teladan itu menyediakan isyarat-isyarat non verbal yang berarti menyediakan contoh yang jelas untuk ditiru.

Mengapa anak perlu dibelajarkan pada sikap-sikap terpuji ? Jawabnya adalah sebagai pedoman dalam kehidupan di masa depan ? Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelegence (1996) mengatakan bahwa kesuksesan hidup tidak tergantung IQ ( Intelegence Quotient) melulu. Menurut hasil penelitiannya, kesuksesan hidup 80% ditentukan oleh EQ (Emotional Quotien ) dan SQ ( Spiritual Quotient) dan maksimum 20%  kontribusi  IQ mempengaruhinya.

Pandangan terbaru yang didasarkan atas penelitian yang jeli dan teliti ini menyadarkan kita untuk memberdayakan potensi EQ dan SQ anak generasi masa depan. IQ yang selama ini dipuja-puja sebagai penentu kesuksesan hidup ternyata tidak benar. Banyak contoh yang dapat kita kemukakan berkaitan dengan peran IQ dalam meraih kesuksesan hidup. Tidak sedikit pejabat  yang IQ- nya tinggi kejeblos dalam penjara gara-gara melakukan korupsi uang rakyat. Orang pintar memiliki IQ tinggi menjadi anak buah perusahaan. Padahal, pemilik perusahaan IQ- nya tidak setinggi dia.

Berkaitan dengan kesuksesan hidup yang kontribusinya lebih besar ditentukan oleh sikap seseorang maka perlu sekali adanya garis penuntun bagi generasi masa depan agar berjalan terarah menuju suatu titik kesuksesan hidup. Garis penuntun saja tidak cukup maka perlu adanya proses latihan melakukan sikap-sikap seperti dalam garis penuntun. Inilah yang dimaksud proses pembelajaran. Proses ini akan sangat bermakna dan bersarang di dalam memori dengan kuat apabila pembelajaran melakukan sikap-sikap seperti dalam garis penuntun dimulai sejak anak belum dewasa. Kiranya sangat wajar apabila ada orang tua yang telah melakukan pembelajaran bagi anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan penanaman sikap-sikap positif yang berguna bagi kehidupan sekali pun kadang tampak memaksa.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggung jawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Menurut Suyanto dalam artikenya ( https://enewsletterdisdik.wordpress.com – 26 Juli 2010 ) kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan yang selanjutnya menjadikan penuntun mau berbuat sesuatu kebaikan. Oleh karenanya tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.
—————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

Buku Artikel Terkait :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: