Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 30, 2011

POLEMIK PENETAPAN HARI RAYA ‘IDUL FITRI

POLEMIK PENETAPAN HARI RAYA ‘IDUL FITRI

Oleh : Dedi Suherman S.Ag
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

Pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri 1 Syawal  adalah kegiatan ritual keagamaan dalam syariat Islam yang waktunya tidak sembarang waktu yaitu harus pada tanggal 1 Syawal setelah pelaksanaan ibadah shaum Ramadhan.  Shalat sunnat ‘Idul Fitri tidak syah dilaksanakan pada tanggal 28 Ramadhan atau tanggal 2 Syawal,tapi harus dilaksanakan pada pagi hari tanggal 1 Syawal.

Kenyataannya di Negara kita sering terjadi perbedaan penetapan tanggal 1 Syawal sehingga berimplikasi kepada perbedaan pelaksanaan shalat sunat ‘Idul Fitri. Bahkan yang lebih sensitive dan sacral adalah pelaksanaan shaum Ramadhan, umat Islam tidak boleh alias haram melaksanakan shaum pada tanggal 1 Syawal.

Bagi para ulama atau fakar agama perbedaan waktu pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri mungkin tidak menjadi masalah karena mereka dapat mempertanggungjawabkannya secara ilmiah. Tetapi bagi masyarakat awwam (grassroot) perbedaan penentuan hari raya ‘Idul Fitri cukup membingungkan bahkan berpotensi menimbulkan perpecahan dan konplik horizontal.

Apa penyebab utama terjadinya perbedaan penentuan tanggal 1 Syawal? Secara teoritis ilmiah perbedaan penentuan penanggalan (kalender qomariyah) adalah karena ada dua metode atau cara yaitu dengan cara rukyat dan hisab. Adapun penjelasan ringkasnya sebagi berikut:

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

‘Hisab secara harfiah ‘perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Dalam Al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan “cahaya langit” sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat. [1]

Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah

Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).

Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.

Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:

Rukyatul Hilal

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:

Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Wujudul Hilal

Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.

Imkanur Rukyat MABIMS

Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei DarussalamIndonesiaMalaysia, dan Singapura(MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:

Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:

  • Pada saat matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
  • Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.

Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal ‘Hisab secara harfiah ‘perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).

Dalam Al-Qur’an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Tuhan memang sengaja menjadikan matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.

Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.

Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Perbedaan Kriteria


Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.


Pada tahun 2011 M/1432 H ini, sidang itsbat menetapkan tanggal 1 Syawal 1432 H bertepatan pada hari Rabu, 31 Agustus 2011, sementara ada pula yang menetapkan tanggal1 Syawal jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011 bahkan Aliran Thariqat Naqsabandhiyah melaksanakan shalat ‘Idul Fitri pada hari Senin, 29 Agustus 2011.


Mana yang tepat dan benar? Wallahu a’lam, kebenaran hakiki hanyalah milik Allah. Kebenaran yang berdasarkan pendapat manusia bersifat nisbi.Hanya para Ulama dan para pakar astronomi harus memiliki tanggungjawab moral untuk mempertanggungjawabkan pendapat atau hasil ijtihadnya.


Yang cukup mengherankan dalam penetapan tanggal 1 Syawal tahun ini oleh pemerintah berdasarkan hasil rukyat para ulama adalah 1 Syawal di Indonesia beda 1 hari dengan wilayah jazirah Arab (Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya). Pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri di Negara jazirah Arabia pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Begitu juga di Malaysia dan Singapura. Sedangkan di Indonesia yang letak geografisnya paling timur, mayoritas umat Islam melaksankan shalat ‘Idul Fitri hari Rabu, 31 Agustus 2011. Hal ini peristiwa yang aneh bin ajaib, karena secara logika dan ilmiyah penetapan tanggal 1 Syawal di Indonesia seharusnya lebih dahulu atau bersamaan dengan negara-negara di Timur Tengah atau negara yang ada di sebelah Barat wilayah Indonesia.


Yang perlu digarisbawahi oleh kita sebagai umat Islam adalah timbulnya berbagai perbedaan pendapat keagamaan di negeri ini adalah karena para Ulama banyak yang mengenyampingkan dasar-dasar keterangan atau petunjuk dalil dalam Al Qur’an dan Hadits Rosululloh saw. Jangankan hal-hal yang bersifat ijtihady seperti penetapan penanggalan kalender. Dalam masalah pelaksanaan ibadah ritual yang dalil-dalinya telah qath’iy dan tafsily pun banyak berbagai perbedaan yang membingungkan umat.
————–
Download artikel dalam format word document [klik disini]

Software terkait :


Responses

  1. Jangan heran, perbedaan tanggal 1 Syawal di muka bumi ini, coba lihat peta, (klik tautan) berikut :

    1. http://rovicky.files.wordpress.com/2006/10/1427syawwal1.JPG (peta ini adalah penampakan hilal pada [22 Oktober 2006)Peta penampakan hilal pada tgl 22 Oktober 2006

    2. http://rovicky.files.wordpress.com/2006/10/1427syawwal2.jpg (peta penampakan hilal pada tanggal 23 Oktober 2006)Peta penampakan hilal pada tgl 23 Oktober 2006

    Keterangan :
    Cara baca peta diatas :

    ACCURATE TIMES VERSI 5.2

    1. Adalah sangat tidak mungkin untuk daerah yang berada di bawah arsiran warna MERAH dapat menyaksikan hilal, sebab pada saat itu hilal terbenam lebih dulu sebelum matahari atau ijtimak lokal (*topocentric conjunction)* terjadi setelah matahari terbenam. Artinya tinggi hilal adalah negatif.

    2. Daerah yang berada pada area tak berarsiran juga sangat besar kemungkinan tidak dapat menyaksikan hilal walaupun menggunakan peralatan optik (binokuler/teropong) sekalipun, sebab kedudukan hilal masih sangat rendah (0° s.d. 6° ) dan terang cakram bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya hilal tidak mungkin teramati.

    3. Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan peralatan optik pada area di bawah arsiran warna BIRU

    4. Lokasi yang berada pada daerah di bawah arsiran warna UNGU hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan peralatan optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

    5. Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran warna HIJAU baik menggunakan mata langsung maupun terlebih menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

    6. Peta ini dibuat hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

    Nah terlihat kan, kalau pada tanggal 22 Oktober 2006 maka daerah Indonesia terbagi dua, yang diutara mustahil bisa ngeliat hilal, sedangkan yang selatan juga belum bisa melihat hilal. Sedangkan pada tanggal 23 Oktober 2006 hampir semua tempat bisa melihat hilal (berwarna HIJAU).

    Nah mengapa Muhammadiyah menggunakan tanggal 23 sebagai tanggal 1 Syawal ? Karena kalau anda tengok gambar yg atas ada bagian kecil disebelah selatan-barar (kiri bawah) ada yg berwarna hijau, artinya*ada *bagian bumi yg bisa melihat hilal dengan tanpa alat. Ini yg disebut kriteria ‘*wujudul hilal*‘. Menurut kriteria ini, dimanapun hilal terlihat dimuka bumi ini semestinya berlaku global.

    Nah mengapa ada perbedaan ? Ya karena memang posisi geografisnya tidaklah sama. Dan kriterianyapun berbeda. Bahkan peta diatas hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan. Barangkali, untuk kali ini, Saudi tidak mementingkan rukyah, karena pada tanggal 22 sudah ada daerah dibumi yang dapat menyaksikan hilal. Dan juga Saudi telah memulai puasa lebih awal, Saudi memulai puasa hari Sabtu, sedang di Indonesia kita memulai hari Minggu. Dan *ngga “mungkin mereka (yg di Saudi) berpuasa lebih dari 30 hari kan ?

    Kanjeng Nabi-pun pernah mencontohkan, suatu saat ada sekelompok umat yang tempatnya jauh dari posisi Nabi waktu itu menyatakan melihat hilal. Setelah nabi mendengarnya Beliau menyatakan pernyataan itu sudah sah. Kalau saja saat ini kita bisa “mendengar” ada sekelompok kaum yang sudah menyatakan melihat hilal, apakah seluruh dunia bisa “bersama-sama” berlebaran ?…:))

  2. Anjuran bagi kita yang awam dan tidak memiliki ilmu falak serta kemampuan untuk melihat hilal, sebaiknya kita kembali kepada pokok ajaran dan perintah agama kita yaitu:

    1. Atiullah (Al-Qur’anulkarim)
    2. Wa atiul Rasul (Hadis-hadis shahih)
    3. Wa atiul ulilamri min kum (keputusan pemerintah)

    Yang mengherankan saya adalah Muhammadiyah ikut sidang isbat tapi mengingkari keputusan sidang…:))

    Kalau begini sikapnya Muhammadiyah tidak akan bakalan ada persamaan dalam menetapkan awal dan akhir ramadhan di negeri ini dan umat akan selalu terpecah..:))

    • Perbedaan adalah sunnah, ukhuwah adalah wajib. Itu dulu yang kita pegang untuk kesatuan sesama saudara muslim. Perbedaan ini memang diatur Allah, karena semua yang terjadi di alam semesta ini hanya bisa terjadi karena izin Allah swt. Semua terjadi secara haq adalah sunnatullah yang tetap dari masa ke masa. Semua yang adalah wujud kasih sayang Allah kepada hambaNya. Baik itu yang kasat mata ataupun yang tidak kasat mata.

  3. Kalau kita sudah meyakini 100% bahwa dunia ini bulat dan jarak antara Arab Saudi dan Indonesia hanyalah 3 s/d 6 jam (tergantung kota dimana anda berada). Rasanya aneh iedul Fitri kita bisa beda 1 hari dengan Saudi Arabia. Atau memangnya Ulama Indonesia ini (NU?) lebih pintar dari ulama Saudi atau Mesir, tapi kenapa justru bangsa kita (banyak) yang belajar di arab sono ketimbang mereka (sedikit) yg belajar dinegara kita. Kenapa Nabi besar Muhammad Saw. justru lahir disana dan bukannya di Indonesia.
    Kalau begini adanya harusnya setiap akhir bulan kita harus kudu melihat posisi hilal sebelum dapat menentukan jatuhnya awal bulan berikutnya dalam penanggalan Hijriah. Dengan begitu maka PASTI jumlah hari setiap bulan misalnya Rabbiul Awal atau bulan lainnya setiap tahun masing2nya bisa 29 atau 30 hari.
    Kalau begitu bagaimana mungkin orang/Ulama Indonesia mampu membuat kalender tahunan yang praktis harus dibuat setahun sebelumnya. Setelah Ilmu dan teknologi semakin berkembang kok kita masih harus menentukan sesuatu yang pasti dan jelas itu dengan cara2 yang tidak jelas dan pasti.

    • Tidak ada yang aneh.
      Hilal itu sebagaimana yang diuraikan di artikel diatas adalah cahaya pantulan matahari ke bulan, nah dan ini akan dipengaruhi oleh posisi matahari sedang berada, sekarang posisi matahari adalah berada diutara (khatulistiwa) bumi sehingga agaknya memungkinkan perbedaan pantulan cahaya matahari (hilal) yang diterima di daerah Indonesia dengan Timur Tengah oleh karena itulah hilal belum terlihat pada tanggal 29 Agustus di observatorium Boscha Lembang dan di titik pemantau lainnya di daerah Indonesia.

      Nah, kalau hilal tidak kelihatan di daerah kita apakah kita keluar dari aturan agama kita sebagaimana diuraikan oleh Pak Dedi diatas..??

    • Pak Adi tiawarman, agaknya.., untuk penanggalan (kalender) hijriah pakai metode hisab (astronomi). tapi untuk pelaksanaan ibadah ikuti perintah Allah SWT sbb:

      فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

      ‘Barangsiapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu‘ (QS. Al Baqarah: 185)

      Allah Ta’ala juga berfirman:

      يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

      ‘Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hilal. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji‘ (QS. Al Baqarah: 189)

      Wallahuaklam,

  4. http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/09/01/saudi-arabia-1-syawal-adalah-rabu-31-agustus-2011/

  5. I. Kalau anda sebagai pengikut dan ingin persatuan, ikut ulil amri.
    Yang paling dominan mengatur urusan kita bermasyarakat adalah pemerintah. Kalau tidak ya ikuti saja kelompok masing-masing. Soal agama bukan hanya hanya penetapan jadwal hari raya saja. Kalau tidak mau ikut pemerintah anda jangan menjadi pegawai negeri, jangan pakai jalan yang dibangun oleh pemerintah, buat KTP oleh kelompok masing-masing, jangan masuk sekolah yang didirikan pemerintah, kalau ada gangguan keamanan jangan melapor kepada polisi Dll sbg.
    Ikut pemerintah adalah salah satu rangka iman.

    II. Ingat orang yang bercerai – berai indikator orang musyrik (Arrum 31-32). Hal ini lah yang sangat penting di takuti. Dan dosa ini pulalah yang paling besar jika dibandingkan dengan anda salah perhtungan melaksanakan jadwal ibadah.

  6. Anjuran bagi Fikon Gurianto & Aminuddin,

    Tentu ada Kriteria Ulil Amri yang harus kita patuhi; apakah antum melihat realita di depan mata mengenai pemerintah (penguasa) negeri ini? adakah satu saja contoh atau kreteria bahwa penguasa NKRI masuk di dalam syarat yang harus dipatuhi? di dalam QS an-Nisa’ [4] : 59. ada syarat ulil amri yang harus dipatuhi yaitu; “…jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Alloh (al-Quran) dan Rosul (Sunnahnya)…”. lihat saja dan bukalah mata hati antum & jangan buta akan realita. Di ayat ini ada catatan kaki bahwa – Ulil Amri (pemegang kekuasaan) – Selama pemegang kekuasaan berpegang pada Kitab Alloh dan Sunnah Rosul. Jika masih ragu, maka bukalah tafsir siapa saja pasti akan sama artinya. dan “Wa atiul ulilamri min kum” jangan disama ratakan setiap penguasa di suatu negeri adalah yang pasti harus ditaati.

    Di dalam al Quran hanya satu kita temukan yaitu hanya di QS 4: 59. Sedangkan ancaman Alloh banyak utk tidak mengikuti ulama & penguasa zalim / kafir.

    Anjuran Alloh Ta’al bagi yang mengaku beriman :

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpion-pemimpinmu, maka mereka itilah orang-orang yang zalim (QS 9:23)

    baca lagi QS 9:31 dan masih banyak lagi.

    Penguasa kita setiap hukumnya pengacu pada KUHP, UUD, Pancasila, atau apa saja sebutannya sama saja UU buatan manusia (BUKAN KEMBALI KEPADA AL QURAN & AS SUNNAH)

    Bp. Dedi Suherman & Patrialis Syah Putra melihat dari sisi keilmuannya, seharusnya Fikon Gurianto & Aminuddin paham dengan artikel ini, berteriama kasih dan paling tidak menanyakan pada diri sendiri dulu apakah yang saya pahami selama ini (Wa atiul ulilamri min kum) sesuai yang Alloh persyaratkan bagi kaum muslimin untuk tunduk dan patuh kepada Ulil Amri?

    • Yaa.., benar Pak Usman Pemerintah (ulil amri) kita mengambil keputusan dalam kaitan ketatanegaraan berdasarkan pada UUD, Pancasila dan KUHP.

      Tapi pemerintah (ulil amri) kita telah menunjuk badan (kementerian) dalam hal aturan-aturan keagamaan (Kementerian Agama) dan MUI yang saya rasa inilah wakil dari kita umat islam di Indonesia yang harus diikuti dan dipatuhi.

      Nah.., saya juga sependapat dengan Pak Usman jika terjadi perbedaan pendapat, kita harus kembali kepada rujukan pokok yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

      Lhaa…, dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa “mulai berpuasa dan dan berhari raya” diharuskan (diperintahkan untuk melihat “hilal (bulan sabit tipis) dan diperjelas oleh Sunnah, jika tertutup awan (tidak kelihatan) tambahlah satu hari (genapkan 30 hari).

      Nah…, tidak rumitkan..???, kenapa Muhammadiyah bersikeras dan berpatokan pada hisab..?. Jadi dengan kata lain dan secara implisit untuk melaksanakan ibadah puasa dan wukuf tidak diharuskan diikuti perhitungan hisab, atau dengan kata lain dimasa Nabi Muhammad masih hidup pernah terjadi berhari raya idul fitri itu dilaksanakan pada tgl 2 Syawal, tanpa merobah bilangan kalender…:))

      Wallahuaklam.

      Mohon maaf wassalam

      • Pak Fikon,

        Hmmm…, Muhammadiayah itu kan organisai modern, ikon mereka “Tajdid” atau “pembaharuan”.

        Saya kira sarjana atau intelektual Muhammadiyah saat ini (maaf) yang keluaran universitas-universitas non Timur Tengah, agaknya tidak memahami konteks dari “Tajdid” yang dimaksud oleh pendiri dan penyebarluaskan Muhammadiyah dulunya itu seperti KH. Ahmad Dahlan dan DR. Karim Amrullah (ayahanda HAMKA) dan HAMKA itu sendiri yang telah berhasil mengembangkan Muhammadiyah diluar Jawa.

        Yang di-Tajdidkan itu adalah masalah muamalah, agar umat Islam tidak kuno dan ketinggalan disegi keilmuan dunia dan ekonomi.

        Dilain pihak Muhammadiyah dulunya adalah “pemurni” ajaran-ajaran Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. program mereka pada saat itu membaerantas Takhayul, Bidaah, Churafat (yang terkenal dengan TBC).

        Nah mari kita perhatikan dan lihat dengan seksama, apakah pada saat ini Muhammadiyah memberantas TBC..???

        Menurut artikel yang disampaikan oleh Pak Aminuddin [saya sudah download di: http://www.ziddu.com/download/16226236/MENYOALMETODEHISAB.doc.html

        Bahwa Muhammadiyah telah melakukan pekerjaan Bidah…:)) Tidak ada perintah melaksanakan (memulai) pusa dan hari raya serta wukuf di arafah dengan mempergunakan hisab..!

        Kita setuju dengan ide Muhammadiyah melaksanakan hisab untuk menyatukan kalender Hijriyah secara global, tapi untuk memulai ibadah seperti puasa, hari raya serta wukuf itu, kita harus laksanakn sesuai dengan perintah Allah dan Rasul.

  7. Untuk himadiklus3:

    kesatuan & persatuan demi Pancasila
    kesatuan & persatuan demi Negara

    Itu yang dinamakan musyrik, bukan demi Alloh. Lihatlah realita yang memecah belah umat ini adalah ulama-ulama pemerintah yang memiliki kepentingan dunia (bukan kepentingan Islam) juga penguasa yang mengacu & berpedoman hidup pada Pancasila & Undang-undang buatan manusia.

    Bisa kita lihat sejarah para nabi & rosul:

    Nabi Ibrahim as “bercerai berai” karena menolak / membatilkan pemerintahan pada saat itu Raja Namrud.

    Nabi Musa as “bercerai berai” dengan pemerintahan pada saat itu Raja Firaun

    Rosululloh saw ” memecah belah” umat pada saat penguasa Raja pada saat itu.

    Apakah antum (himadiklus3) berani mengatakan para nabi & rosul keluar (tidak taat & patuh pada penguasa / pemerintah pada saat itu? antum bisa baca para sahabat, tabiin & ulama terdahulu (salaf), meraka berani “memecah belah & bercerai berai” demi membela agama ini (Tauhid). Antum malah Demi kesatuan & persatuan tidak jelas dari sisi mana.

    Kalupun mengenai seperti; KTP, SIM, peraturan lalu lintas dll, bagi islam adalah masalah administratif jadi tidak bertentangan denga hukum Alloh

  8. Kita tidak berbicara Muhammadiyah atau gerombolan yang lain.
    Beginilah jika pemikiran “Islam Indoneisa – Pemikiran Islam yang tradisionil” hanya sebatas Muhammadiyah, NU, Persis atau bahkan yg baru Ahmadiyah? gerombolan ini (Muhammadiyah, NU, termasuk gerombolan para pengaku-aku (salafi murjiah) dll) hanya mengedepankan nama kelompoknya saja, di luar kelompoknya tidak diterima / dipilah-pilih yang mana menguntungkan bagi kelompok mereka. Kalu Islam dikotak-kotakkan seperti ini, berdasarkan wilayah / negara masing-masing, lalu mana nash atau dalil yang Alloh mengatakan Islam itu sesuai pemahaman kelompok, penguasa, wilayah/ negara? BUMI ini milik Alloh, dimanapun kaum muslimin adalah saudara.

    Pendapat Fikon dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa “mulai berpuasa dan dan berhari raya” diharuskan (diperintahkan untuk melihat “hilal (bulan sabit tipis) dan diperjelas oleh Sunnah, jika tertutup awan (tidak kelihatan) tambahlah satu hari (genapkan 30 hari).

    memang benar, lalu jika saudaramu dimanapun berada melihat hilal dan menyampaikan kepada kita apakah kita lalu menolak? karena takut tidak taat pada penguasa? Kan sudah jelas artiket ini mengatakan bahwa wilayah NKRI tidaklah semudah di negeri Timur Tengah sana untuk melihat Hilal? di BUMI ALLOH mana saja jika ada saudaramu yang melihat hilal maka
    percaya & ikutilah

    Intinya kita tidak berhak atas nama persatuan & kesatuan lalu harus tunduk patuh & dengar kepada pengusa negeri dimana kita tinggal. kan sudah jelas ada syarat yang mana penguasa yang harus ditaati. kita mau ikuti (taat) nash al-Quran & as Sunnah atau Penguasa yang ber- Ketuhanan Yang Maha Esa (semua tuhan benar) buka Alloh Yang Maha Esa.

    Disinilah letak berpecah belah Islam mengedepankan gerombolan, kelompok atau negerinya

  9. Singkatnya Ada 3 syarat:

    1. Melihat
    2. Mendengar
    3. Menggenapkan (30 hari)

    jadi jika tidak melihat, maka dimana saja ada saudaramu / di negeri mana saja berada melihat maka masuk kesyarat ke-2 yaitu mendengar, dan jika tidak ada saudaramu yang melihat / negeri-negeri lain tidak melihat maka genapkan 30 hari

    • Pak Usman Yth, saya sependapat dengan 3 syarat diatas, dan saya tidak sependapat dengan statemen Bapak bahwa “maka dimana saja ada saudaramu / di negeri mana saja berada melihat maka masuk kesyarat ke-2 yaitu mendengar”…))

      Penampakan hilal jelas tidak akan sama dan akan berbeda dari wilayah-wilayah dipermukaan bumi, sesuai dengan komentar Pak Patrialis (komentator) pertama diatas, yang dilengkapi dengan peta penampakan hilal..:))

      Sebagai referensi kiranya Bapak berkenan membaca artikel dari para ahli astronomi, diantaranya [klik disini] dan [klik disini]

  10. Apakah dengan statment “mendenar” antum juga tidak menolak / setuju dengan hadits Rosululloh saw

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    “Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

    dihadits ini juga punya syarat yaitu; “..Jika dua orang saksi mempersaksikan…” maksud jelasnya – jika pemerintah / penguasa NKRI ini memutuskan (semisal) jam 22:00 bahwa tidak melihat hilal maka diputuskan belum waktunya berbuka (blm Hari Raya) lalu pada jam 01:00 dini hari adanya informasi dari negeri timur tengah (negeri mana saja yang lebih mudah untuk melihat hilal) mengumumkan telah melihat hilal, maka penguasa NKRI ini harus berlapang dada untuk mengumumkan pada saat itu atau pagi harinya kepada masyarakatnya untuk membatalkan puasanya.

  11. (revisi) Apakah dengan statment “mendengar” antum (fikon) juga menolak / tidak setuju dengan hadits Rosululloh saw

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
    “Puasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya. Jika awan menghalangi kalian sempurnakanlah tiga puluh hari. Jika dua orang saksi mempersaksikan (ru’yah hilal) maka berpuasalah dan berbukalah kalian karenanya.” (HR. An-Nasa’I 4/132, Ahmad 4/321, Ad-Daruquthni, 2/167, dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab dari sahabat-sahabat Rasulullah, sanadnya Hasan. Demikian keterangan Syaikh Salim Al-Hilali serta Syaikh Ali Hasan. Lihat Shifatus Shaum Nabi, hal. 29)

    dihadits ini juga punya syarat yaitu; “..Jika dua orang saksi mempersaksikan…” maksud jelasnya – jika pemerintah / penguasa NKRI ini memutuskan (semisal) jam 22:00 bahwa tidak melihat hilal maka diputuskan belum waktunya berbuka (blm Hari Raya) lalu pada jam 01:00 dini hari adanya informasi dari negeri timur tengah (negeri mana saja yang lebih mudah untuk melihat hilal) mengumumkan telah melihat hilal, maka penguasa NKRI ini harus berlapang dada untuk mengumumkan pada saat itu atau pagi harinya kepada masyarakatnya untuk membatalkan puasanya.

    • Hmmm.., Pak Usman Yth.

      Disaat ini kita tidak mungkin mendengar sabda dari Nabi Muhammad Rasulullah SAW,,))

      Dan Hadis yang Bapak sampaikan diatas saya meyakininya lewat membaca buku-buku hadis dan mendengarkan dari wejangan para ustadz.

      Setentangan “saksi yang didengar yang telah melihat hilal” adalah saksi yang berada satu wilayah jangkauan (secara astronomi) dengan wilayah dimana kita berada seperti yang diutarakan pada peta Pak Patrialis diatas dan pada artiklel-artikel yang saya infokan [klik disini] dan [klik disini]

  12. Jika agama Alloh hanya sebatas wilayah – saya katakan aneh dan tidak bisa diterima dengan akal sehat – apalagi dengan nash & dalil.

    Jika di awal saja keliru berwala’ atau ber “Ulil Amri” (taat kepada penguasa yang seharusnya minimal berlepas diri) maka akan ketemu kekeliruan yang panjang dan berentet kedepannya.

    Ambil satu contoh lagi:

    Jika di Mekah sana telah wukuff maka keesokan harinya adalah Hari Raya (Iedul Adha) namun beberapa tahun yang lalu penguasa NKRI tidak melaksanakannya / lebih lama sehari.

    Jika hadits Rosululloh mengatakan begini, namun penguasa mengatakan begitu maka kita mengikuti penguasa – dengan banyak dalih (bukan dalil) taat kepada Ulil Amri yang belum jelas syarat terpenuhinya Ulil Amri Min kum.

    Lalu harus bilang apa kalu nash & hadits sudah disampaikan masih ditolak, siapa lagi yang berhak menasihati orang seperti ini. saya akhiri sampai disini.

    • Pak Usman Ysh,

      Siapa bilang agama Allah sebatas wilayah..?

      Padahal topik diskusi kita adalah setentang penampakan “hilal”, kenapa Bapak larikan kepada topik lain..^_^

      Kalau Bapak telah menilai penguasa negeri ini tidak taat lagi kepada Allah, Nah apakah Bapak akan taat pada penguasa negeri lain yang ketaatannya kepada Allah belum tentu seperti apa yang Bapak dengar.

      Saya setuju diskusi sama Bapak diakhiri sampai disini, dan saya mohon maaf jika tanggapan saya tidak berkenan.

      Wabillahittaufiq walhidayah fastabikul khairat…!
      Wassalam.

  13. الحمدلله…
    شكرا كثير


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: