Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 8, 2011

Pasca Shaum Ramadhan : Mau Mudik Jiwa atau Mudik Raga ?

Pasca Shaum Ramadhan :

Mau Mudik Jiwa atau Mudik Raga ?

Oleh : Dedi Suherman
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

Puji Syukur kita panjatkan ke hadhirat Allah swt. Karena atas Qudrat, Irodat serta Inayah-Nya, kita diberi kesehatan pisik dan mental sehingga dapat menunaikan ibadah saum Ramadhan sebulan lamanya.

Harapan kita tentu saja semoga ibadah shaum kita dapat mencapai target tujuan yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah :183 “ Hai orang-orang beriman diwajibkan kepadamu sekalian shaum sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang bertakwa”

Disamping itu kita juga berharap semoga ibadah shaum kita mampu menghapus segala dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan. Sesuai dengan sabda Rosulullah saw. “ Barang siapa melaksanakan shaum Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni segala dosa yang telah diperbuatnya”.

Sebagaimana diketahui bahwa tanggal 1 Syawal adalah hari raya ‘Idul Fitri artinya kembali kepada kesusian diri. Suci bersih dari berbagai noda dosa setelah selesai melaksanakan puasa. Namun di negeri kita ini menjelang akhir bulan Ramadhan ada tradisi unik yaitu tradisi MUDIK alias budaya pulang kampung halaman. Tradisi ini entah sejak kapan dan entah siapa yang memulainya, karena dalam syari’at Islam tidak ada anjuran mudik di hari raya ‘Idul Fitri. Hal ini dapat dibuktikan oleh fakta sejarah Rosulullah SAW, ketika beliau menetap di Madinah pada waktu hari raya ‘Idul Fitri beliau tidak mudik ke Makkah tempat kelahirannya. Begitu juga para shahabat, mereka tidak repot-repot membawa sanak keluarga  pulang berbondong-bondong ke tempat asalnya.

Lain halnya dengan tradisi  umat Islam di negeri kita, budaya mudik di hari raya ‘Idul Fitri merupakan fenomena sosial yang sangat monumental. Tradisi semacam ini tidak menjadi masalah bila tidak menimbulkan banyak masalah, apalagi kalau motivasi mudik itu untuk menjalin silaturahmi dengan sanak keluarga yang telah lama tidak berjumpa.

Tetapi yang menjadi masalah ternyata tradisi mudik banyak menimbulkan masalah yang berdampak negatif, baik masalah sosial, ekonomi maupun budaya.

1) Masalah sosial

Akibat tradisi mudik telah menimbulkan banyak masalah di bidang transfortasi. Mobilisasi orang yang cukup tinggi telah merepotkan petugas lalu lintas baik polisi, pegawai DISHUB bahkan sampai Menteri Perhubungan. Kurang lebih dua minggu yaitu seminggu sebelum hari H sampai seminggu setelah hari H, mereka ekstra keras bekerja di jalur perhubungan mengatur arus transfortasi baik darat, laut maupun udara. Terutama pada jalur perhubungan darat akibat budaya mudik setiap tahun telah menimbulkan kemacetan yang luar biasa, disamping itu  tidak sedikit menelan  korban kecelakaan yang mengakibatkan luka parah bahkan kematian.

Budaya mudikpun dapat menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan, terutama di kota-kota besar yang ditinggalkan oleh para pemudik. Suasana kota menjadi sepi, rumah-rumah banyak yang kosong sehingga mengundang para penjahat untuk melakukan tindakan kriminal.

2) Masalah Ekonomi

Menjelang hari raya ‘Idul Fitri biaya ekonomi keluarga semakin tinggi. Mengapa hal ini terjadi ?. Pertama, harga barang kebutuhan rumah tangga melonjak tinggi. Baik barang pangan maupun barang sandang harganya meroket, karena jumlah permintaan konsumen meningkat drastis. Para pemudik umumnya suka memborong barang-barang kebutuhan rumah tangga baik makanan maupun pakaian. Disamping untuk kebutuhan keluarga juga untuk barang oleh-oleh atau bingkisan bagi saudara di kampung halaman. Kedua, umumnya umat Islam Indonesia suka meningkatkan keinginan dan kebutuhannya menjelang hari raya ‘Idul Fitri, pakaian ingin serba baru, makanan ingin serba ada dan serba enak. Tentu saja tradisi ini memacu kenaikan harga di pasar. Tradisi semacam ini sungguh kontradiksi dengan esensi tujuan ibadah shaum. Padahal dengan ibadah shaum diharapkan manusia mampu menahan nafsu duniawi sehingga tidak memiliki sifat konsumtif, hedonis dan materialis. Namun justru anehnya belum saja ibadah shaum selesai, ternyata sifat ingin berfoya-poya dan bergaya malah meningkat. Penyakit komsumtif, hedonis dan materialis tidak mampu dikikis habis bahkan terlihat semakin kronis. Ketiga, budaya mudik telah meningkatkan kebutuhan sarana transfortasi, sehingga berbagai macam jenis angkutan umum kewalahan untuk melayani penumpang. Hal ini memicu tarif ongkos angkutan melonjak naik. Usaha rental mobil pun cukup laris, karena bagi orang-orang yang ingin pulang kampung sedikit bergaya agar sanak keluarga dan bekas tetangganya memandang dia sukses di kota, dia sekeluarga pulang kampung dengan sedikit memaksakan diri merental mobil jenis mini bus, APV, Avanza, atau sedan. Biar harus merogoh kantong agak tebal yang penting punya gengsi orang-orang sekampung bahkan sedesa manggut menghormati. Akibatnya budaya mudik sedikit mengganggu kestabilan ekonomi nasional. Masyarakat fakit miskin semakin menghadapi beban berat pada hari raya ‘Idul Fitri, karena dampak kenaikan harga dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

3) Masalah Budaya

Tradisi mudik juga ternyata berpengaruh terhadap budaya, adat istiadat  terutama dikalangan generasi muda. Para pemuda dan pemudi kampung yang bekerja di kota-kota besar pada hari raya ‘Idul Fitri mereka berbondong-bondong mudik alias pulang kampung. Ternyata banyak perilaku negatif dan bertentangan dengan syari’at Islam hasil pergaulan di kota dibawa ke desa dan mempengaruhi perilaku pemuda-pemudi desa yang sedikit masih lugu. Banyak pemuda kota pulang ke desa dengan membawa NARKOBA atau Miras kemudian dikonsumsi bersama dengan pemuda desa. Akhirnya mereka kecanduan. Begitu juga para memudi yang mudik, banyak diantara mereka yang berpakaian seronok, rok mini, pakaian dajal (terlihat dada dan bujal) dsb, mereka bergaya seperti selebritis di kota sehingga menggoda para wanita desa untuk mengikuti cara berpakaian mereka.

Dampak negatif lainnya dari tradisi mudik adalah ketika mereka kembali ke kota, ternyata tidak sedikit menggoda sanak keluarga dan tetangganya yang tinggal di desa untuk ikut pergi ke kota..  Lumayan, kalau para pemudik itu di kotanya menyediakan lapangan kerja, tapi kalau hanya menambah jumlah pengangguran di kota-kota besar, hal ini sangat rawan dan berdampak negatif terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan budaya bangsa. Arus urban mengakibatkan  melonjaknya angka pengangguran di kota-kota besar, karena umumnya para pemuda desa yang ikut pergi ke kota tidak disertai ilmu dan keahlian yang memadai. Melamar kerja di instansi tidak memiliki bukti prestasi, melamar ke pabrik tidak dilirik, berwiraswata tidak punya biaya. Akhirnya jadi sampah ibukota yang yang bertebaran memenuhi emperan dan kolong jembatan.

Mengakhiri artikel ini, sesuai dengan judul di atas. Penulis bertanya kepada para memudik. Lebih efektif dan efesien mana ? Mudik jiwa atau mudik raga ? Mudik jiwa artinya kembali menjaga kesucian diri setelah melaksanakan ibadah shaum Ramadhan, dengan cara meningkatkan amal-amal soleh baik yang bersifat ibadah ritual maupun ibadah sosial. Sedangkan mudik raga yaitu sebagai mana yang dipaparkan di atas. Dari mulai saat ini, barangkali mudik jiwa lebih efektif dan efesien untuk memperbaiki diri dari pada mudik raga.

Melakukan mudik raga alias pulang kampung, rasanya tidak perlu berjama’ah memanfaatkan momentum hari raya ‘Idul Fitri, karena terlihat dampak negatifnya lebih banyak dan lebih besar dari pada positifnya. Untuk melepas rindu terhadap sanak keluarga di kampung halaman  tidak ada salahnya bila menggunakan waktu-waktu lain yang lebih  senggang. Begitu pula untuk sekedar silaturahmi dan untuk saling memaafkan dengan keluarga, dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi sekarang dapat dilakukan via HP, Telephon atau Internet. Bukankah HP sudah menjamur sampai ke desa-desa ?

Lebih baik kita mudik jiwa kepada fitrah suci dari berbagai dosa dan noda daripada mudik raga pulang kampung yang memerlukan biaya tinggi dan resiko lainnya yang membahayakan raga. Mudik jiwa menyelamatkan sedangkan mudik raga membahayakan.
————
Download artikel ini dalam format file word-document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: