Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 10, 2011

Video hari ini : In Retrospect: How Young Indonesians Perceive 9/11

Video hari ini :

In Retrospect: How Young Indonesians Perceive 9/11


Dunia Baru yang Berani Setelah 11 September

Oleh :  Asma Afsaruddin
(Guru besar kajian Islam di Indiana University, Bloomington, dan pengarang buku Striving in the Path of God: Jihad and Martyrdom in Islamic Thought and Practice, yang segera terbit pada 2012)
Bloomington, Indiana – Andai kita cuma menyimak berita utama surat kabar dan liputan media siaran, dalam satu dasawarsa setelah 11 September 2001, kita akan menyimpulkan bahwa dunia telah menjadi semakin dilanda krisis dan sebagian hal semakin memburuk padahal kita mengira hal-hal itu tidak mungkin memburuk.

Para militan yang punya semangat keagamaan terus merencanakan serangan teror di Amerika Serikat dan belahan bumi yang lain.

Terorisme yang tumbuh di dalam negeri sendiri menampakkan wajah buruknya ketika Faisal Shahzad, warga Pakistan-Amerika, berupaya meledakkan sebuah mobil di Times Square tetapi syukurnya gagal.

Kejadian-kejadian heboh seperti kontroversi seputar pusat kegiatan masyarakat Park 51 di New York mendominasi berita tahun lalu. Demikian pula pembakaran al-Qur’an oleh Pastor Terry Jones di Gainesville, Florida, yang kemudian menyulut kekerasan di Afghanistan.

Menurut setiap survei besar yang diadakan dalam lima tahun terakhir, sentimen anti-Islam di Amerika Serikat telah tumbuh berlipat-lipat dan retorika penuh kebencian dari kelompok-kelompok sayap kanan terus berlanjut. Semua kejadian ini menyedihkan dan menjadi peringatan keras akan adanya sikap saling tidak percaya dan kecurigaan antara apa yang sering disebut sebagai dunia Muslim dan Barat.

Daftarnya masih bisa diteruskan.

Tetapi sebelum wajah sedih kita semakin suram, kita harus membaca tulisan yang tidak dicetak tebal juga. Kejadian-kejadian yang tidak dinyatakan sebagai berita utama perlu dilihat juga.

Seorang pria Muslim Senegal adalah di antara orang yang mendengar alarm yang berbunyi akibat asap bom mobil yang ditaruh oleh Shahzad di Times Square dan membantu menyelamatkan banyak nyawa.

Proyek pembangunan pusat kegiatan masyarakat Park 51 mendapat dukungan sepenuh hati dari Manhattan Community Board 1 – sebuah dewan masyarakat New York City yang mewakili orang-orang di pinggiran Manhattan – dan September 11th Families for Peaceful Tomorrows.

Untuk melawan kefanatikan agama, acara-acara lintas agama semakin sering diadakan oleh para praktisi agama yang rendah hati tetapi sangat efektif. Di Omaha, Nebraska, jauh di pedalaman Amerika, sebuah prakarsa tiga agama tengah berencana membangun sebuah kampus antaragama, yang rencananya rampung pada 2014, yang terdiri atas sebuah sinagog, sebuah masjid dan sebuah gereja di tanah seluas 37 hektar.

Baru-baru ini, tokoh Partai Republik yang punya harapan menjadi calon presiden, Herman Cain, menghentikan sikap Islamofobianya dan berdamai dengan para tokoh Muslim di Washington DC.

Dan Pastor Jones? Kini ia menjadi orang kesepian yang ditinggalkan oleh sebagian besar anggota jemaatnya lantaran sikap ekstremnya. Sebuah tulisan New York Times tentang Jones baru-baru ini mewartakan bahwa di depan gerejanya, papan yang menyebut “Islam berasal dari Setan” telah diubah oleh orang-orang luar menjadi “Cintai Semua Manusia.”

Daftar ini masih bisa dilanjutkan.

Maka, cara tepat menggambarkan satu dekade terakhir ini adalah bahwa dekade ini menantang, membuat frustrasi tetapi sekaligus inspirasional. Ini sebuah dekade yang menumpahkan banyak emosi dan prasangka kita, dan memaksa kita mengatasinya di ruang publik di mana emosi dan prasangka itu tidak bisa diabaikan.

Untuk setiap tindakan yang telah mengancam mengembalikan kita ke jurang polarisasi dan kebencian, telah ada tindakan lain yang menunjukkan kita cara yang lebih manusiawi dan tercerahkan untuk melangkah ke depan.

Filsuf Jerman abad kesembilan belas Friedrich Nietzsche pernah mengatakan bahwa apa yang tidak menghancurkanmu akan membuatmu lebih kuat. Hari itu, 11 September, tidak menghancurkan semangat baja orang-orang yang menolak untuk menanggalkan keyakinan pada kemanusiaan, dan yang meyakini kebaikan intrinsik dan ketabahan jiwa manusia.

Kita memasuki dasawarsa berikutnya dengan lebih kuat untuk terus menjungkirkan kekuatan yang penuh kebencian dan memecah belah dan memilih menggantikannya dengan belas kasih dan pengertian. [Asma Afsaruddin]
——————————–
Artikel ini adalah bagian dari seri peringatan sepuluh tahun tragedi 11 September, yang ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), 19 Agustus 2011, http://www.commongroundnews.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: