Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 15, 2011

REVITALISASI PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA BARAT MELALUI PENDIDIKAN BERNUANSA SURAU

REVITALISASI PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA BARAT MELALUI PENDIDIKAN BERNUANSA SURAU

Oleh : Dra. Nadiarlis, M.Pd
Guru PAI SMA Negeri 3 Batusangkar- Sumatera Barat

I.  PENDAHULUAN

Pendidikan Islam di Sumatera Barat tepatnya di Minangkabau pada abad-abad yang lalu sering di arahkan pada pembentukan karakter bangsa terutama karakter Islami. Karakter itu  sesuai dengan tujuan pendidikan bangsa Indonesia yaitu “ mendidik manusia Indonesia seutuhnya. Dalam pemahaman masyarakat yang notabenenya mayoritas beragama Islam. Pendidikan manusia seutuhnya itu ditandai dengan hasil adanya ketaatan dalam beribadah, sopan, jujur dan lain-lain dalam diri peserta didiknya. Hal ini mereka lakukan melalui penanaman nilai-nilai yang baik pada peserta didik. Nilai-nilai inilah yang saat ini dituju oleh masyarakat Indonesia secara umumnya dan Sumatera Barat khususnya.

Minangkabau yang terkenal dengan falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah“ pada zaman dahulu menanamkan nilai-nilai terutama religi. Tapi memasuki abad ke duapuluh mulai pudar pada diri putra-putri Sumatera Barat (Minangkabau). Mereka telah terkontaminasi oleh budaya Barat, bahkan nilai-nilai tersebut cenderung padam.

Untuk menghidupkan kembali nuansa surau dalam pendidikan Islam khususnya untuk putra-putri Sumatera Barat, pemerintah Sumatera mengeluarkan “Perda 03 tahun 2007 tentang pendidikan bernuansa surau yang diimplementasikan melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah yang ada diseluruh penjuru Sumatera Barat. Dalam hal ini penulis memandang perda tersebut sebagai salah satu solusi dalam merevitalisasi pendidikan Islam di Minangkabau.

Sejalan dengan itu Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 3, yaitu: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Untuk lebih jelasnya kebenaran dari pandangan penulis tersebut, maka penulis mencoba membahas langkah-langkah implementasi yang ditawarkan oleh Perda 03 tahun 2007 tersebut dan nilai-nilai yang perlu ditanamkan pada peserta didik.

Tujuan penulis untuk membicarakan revitalisasi ini adalah menganalisa metode-metode pendidikan karakter masa dulu yang ditanamkan pada peserta didik dan koherensinya dengan nilai-nilai pendidikan bernuansa surau yang dicetuskan dalam perda tersebut. Dengan metode itu nantinya pendidik akan dapat mengimplementasikan pendidikan bernuansa surau saat ia melakukan bimbingan atau pembelajaran di kelas melalui semua mata pelajaran yang diampu.

Ruang linkup pembahasan penulis adalah pengertian revitalisasi, pendidikn secara umum, pendidikan Islam dan pendidikan bernuansa surau. Selain itu penulis juga akan membahas nilai-nilai ABS-SBK sebatas yang ada korelasinya dengan pendidikan bernuansa surau.

II.  PEMBAHASAN

Sebelum penulis membahas lebih lanjut tentang revitalisasi pendidikan Islam di Sumatera Barat, ada baiknya terlebih dahulu penulis menjelaskan pengertian revitalisasi, pendidikan, Pendidikan Islam secara umum dan  Pendidikan bernuansa surau.

A. Pengertian revitalisasi

Revitalisasi berasal dari kata vital yang berarti “ sangat penting (untuk kehidupan). (KBBI: 1120) Revitalisasi berarti “ proses, cara, perbuatan menvitalkan (menjadikan vital) ( KBBI: 839). Pengertian secara terminologi bahwa revitalisasi maksudnya adalah upaya menghidupkan kembali sesuatu yang telah kehilangan fungsi pentingnya.

B. Pengertian Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata “didik” atau “mendidik” yang berarti “memelihara atau memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan yang diberi awalan pe dan akhiran an yang berarti“ Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan“ (KBBI: 232)

Menurut Hasbullah dalam bukunya Ilmu Mendidik bahwa Pendidikan atau Paedagogie berarti, bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa (Hasbullah: 1). Selain itu Hasbullah juga menulis dalam bukunya dengan  mengutip pendapat Ahmad D Marimba bahwa, Pendidikan itu adalah “ bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”

Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan itu adalah proses bimbingan dan pengajaran pada peserta didik untuk bersikap sampai dia mengalami masa kedewasaannya. Proses tersebut bukan saja berupa pengajaran terhadap ilmu-ilmu tertentu, tapi juga proses untuk merubah sikap (perilaku) tercela peserta didik. Misalnya yang tadinya peserta didik tersebut tidak jujur, tidak ta’at beribadah dan tidak mempertahankan perilaku baiknya. Setelah dilakukan pendidikan pada dirinya, dia mampu berbuat sesuai dengan apa yang telah diprogramkan oleh dunia pendidikan.

C. Pendidikan Islam

Seperti dikutip oleh Prof. Dr. H. Suyuthi Pulungan, M.A. dalam bukunya “Revitalisasi Pendidikan” menulis bahwa pengertian pendidikan Islam sebagai usaha untuk melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, baik dari segi jasmani maupun rohani, baik dari kehidupan fisik,  maupun mentalnya dalam melaksanakan kegiatannya. (Revitalisasi Pendidikan Islam: 48).

Drs. Muhaimin dalam bukunya “ Paradigma Pendidikan Islam bahwa pengertian Pendidikan Islam ada tiga:

  1. Pendidikan Islam yakni, pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai yang fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya yaitu al-Qur’an dan As.Sunanah
  2. Pendidikan Islam yakni, upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang
  3. Pendidikan Islam adalah proses praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat Islam

Dari ketiga pengertian di atas secara lahirnya tanpak berbeda. Namun pada hakikatnya merupakan satu kesatuan yang mengarah pada satu pemahaman bahwa pendidikan Islam itu merupakan suatu proses bimbingan terhadap peserta didik dengan mengajarkan atau melatihkan  ajaran-ajaran berupa akhlak, nilai-nilai baik yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan dua pusaka yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW yang mana beliau diutus oleh Allah SWT dengan membawa risalah Islamiah. Dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah terdapat petunjuk atau pedoman tentang nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga manusia tersebut tidak menempuh jalan yang sesat yang sangat disenangi oleh syetan.

D. Pendidikan Bernuansa Surau

Sumatera Barat dikenal dengan suku Minangkabau yang mempunyai falsafah “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” artinya masyarakat Minang selalu menjalani kehidupannya dengan norma-norma agama dan berbudaya yang tidak menyalahi norma agama. Nilai-nilai yang terkandung dalam  norma agama dimplementasikan dalam budaya hidup sehari-hari. Nilai-nilai tersebut diterapkan melalui Pendidikan yang dilaksanakan di Suarau semacam tempat ibadah. Apapun bentuk pendidikan yang bertujuan untuk membentuk karakter putra Minangkabau dilaksanakan di surau. Hal itu terjadi pada abad-abad yang lalu sebagaimana yang kita ketahui bahwa putra-putra Minang itu belajar mengaji, membaca kitab kuning yang isinya pelajaran agama Islam, belajar silat bela diri didasarkan pada ajaran Islam, semuanya itu dilaksanakan si surau yang notabenenya adalah tempat ibadah.

Mulai abad 21 ini hal itu kurang terlaksana jarang  terjadi , seperti yang telah penulis jelaskan pada pendahuluan diatas bahwa putra-putri Minang telah terkontaminasi oleh budaya Barat. Untuk itu pemerintah Sumatera Barat berusaha mengembalikan penanaman nilai-nilai karakter yang pernah dilaksanakan melalui surau di masa lalu dengan cara mengimplementasikan dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal inilah yang dimaksud dengan pendidikan bernuansa surau sebagai salah satu upaya pemerintah Sumatera barat. Upaya tersebut diwujudkan dalam program Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau (PKPBS) di sekolah (SMP dan SMA). Berikut ini adalah beberapa nilai yang terkandung dalam pendidikan bernuansa surau seperti yang dirumuskan PKPBS sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam falasafah “Adat Basndi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagaimana yang dicetuskan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Propinsi Sumatera Barat. Nilai-nilai tersebut yaitu:

  1. Nilai-nilai Budaya Minangkabau adalah nilai-nilai universal yang menonjol dan menjadi karakteristik masyarakat Minangkabau. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: (1) Egaliter (tagak samo tinggi duduak samo randah), (2) Hormat-menghormati (kato nan ampek), (3) Bahambauan (peka terhadap kaba buruak), (4) Baimbauan (peduli terhadap kaba baiak), (5) Sapikue-sajinjiang (barek samo dipikue ringan samo dijinjiang), (6) Raso jo pareso, (7)  Basa-basi, (8) Sopan-santun, (9)  Randah hati (manyauak di hilia-hilia bakato di bawah-bawah), (10) Saiyo-sakato, (11) Sahino samalu, (12) Percaya diri (taguah), (13) Kemandirian, (14) Keberanian, (15) Kegigihan, (16)  Arif-bijaksana, (17) Keteguhan, (18) Anggo-tanggo, (19) Tanggungjawab (anak dipangku, kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan), (20) Dll.
  2. Nilai-nilai agama Dalam ajaran agama Islam, nilai-nilai agama tersebut dapat diklasifikasikan kepada empat macam, yaitu:

a. Hablun minallah, yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: (1) Keikhlasan, (2) Kepatuhan, (3)  Ketaatan, (4) Syukur, (5) Kesabaran, (6) Keyakinan, (7) Komitmen (istiqamah), (8)  Tawakal, (9) Cinta (mahabbah), (10) Dll.

b. Hablun minnas; yaitu nilai-nilai yang harus dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan sesama manusia. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: (1) Keadilan, (2) Tenggangrasa, (3) Tolong-menolong, (4) Empaty, (5) Maaf-memaafkan, (6) Doa-mendoakan, (7) Kebersamaan, (8) Kerjasama, (9) Kasih-sayang, (Dll).

c. Hablun minannafsi; yaitu nilai-nilai yang patut dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan diri sendiri, yaitu: (1) Disiplin, (2) Kejujuran, (3) Tanggungjawab, (4) Kebersihan, (5) Istiqamah, (6) Keteladanan, (7)  Kewibawaan, (8)  Optimis, (9)  Tawadhu’, (10) Dll.

d. Hablun minal’alam, yaitu nilai-nilai yang patut dikembangkan seseorang dalam hubungannya dengan lingkungan, yaitu: (1) Kebersihan, (2) Kepekaan, (3) Kepedulian, (4)  Kesadaran, (5)  Kasih-sayang, (6)  Kelestarian, (7)  Keseimbangan, (8) Keindahan, (9)  Kenyamanan, (10) Dll.

D. Implementasi Pendidikan Bernuansa Surau sebagai Solusi Merevitalisasi Pendidikan Islam di Sumatera Barat

1. Pengerertian Implementasi

Implementasi berarti pelaksanaan, penerapan (KBBI: 374). Secara terminologi implementasi bearti pelaksanaan atau penerapan sesuatu, (metode, langkah-langkah atau rencana). Pelaksanaan itu sesuai dengan metode, langkah atau rencana yang telah dirancang sebelumnya.

2. Surau di Masa Lalu

Sebelum penulis sampai pada paenjelasan pendidikan bernuansa surau yang dicetuskan pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat, terlebih dahulu penulis menilik seluk beluk surau di masa lalu. Pengertian surau, kegiatan pembelajaran, pendekatan serta metode yang digunakan.

Istilah Surau, kadang-kadang dibaca singkat suro, adalah kata yang banyak tersebar di Asia Tenggara. Sejak dulu, istilah ini tampaknya telah digunakan secara meluas di Minangkabau, Tanah Batak, Sumatera Tengah, Sumatera Selatan, Semenanjung Malaya dan Patani (Thailand Selatan) da­lam arti yang sama. Secara linguistik, kata surau berarti “tem­pat” atau “tempat ibadah”. Jadi, surau adalah sebuah bangunan kecil yang aslinya dibangun untuk menyembah nenek moyang kuno. Karena alasan ini, surau paling awal biasanya didirikan di atas tempat yang paling tinggi atau setidaknya lebih tinggi dari bangunan lain. Juga sangat mungkin, bahwa surau berkaitan erat dengan kebudayaan desa, karena kebanyakan surau ditemukan di daerah pedesaan, meskipun dalam perkembangannya kemu­dian surau juga dapat ditemukan di perkotaan. (Azyumardi Azra, 2003: 47)

Setelah Islam datang, surau mengalami proses Islamisasi. Fungsi surau tidak hanya dijadikan sebagai lembaga adat, tempat tidur kaum lelaki yang masih bujang atau duda, dan persinggahan para pedagang, akan tetapi yang terpenting adalah surau dijadikan sebagai lembaga pendidikan Islam. Sebagai lembaga pendidikan Islam, surau dipimpin oleh Tuanku Syekh sebagai personifikasi dari surau itu sendiri. Murid-muridnya ada yang berasal dari daerah lain dan murid tersebut sering disebut dengan istilah urang siak, faqih atau fakir.

Materi dasar yang diajarkan dalam surau sebagai lembaga pendidikan Islam ini adalah pengajian Alquran dengan dua tingkatan; tingkat bawah dan tingkat atas. Pada tingkat bawah diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah dan membaca Alquran dengan metode baghdadiyah; pendidikan aqidah tentang rukun iman dan sifat dua puluh; pendidikan ibadah, seperti wudhu’ dan shalat; serta pendidikan akhlak berupa keteladanan dan kisah-kisah teladan dari Nabi dan orang-orang shaleh. Sedangkan tingkat atas meliputi pelajaran membaca Alquran dengan irama (tilawah/mujawad) serta lagu kasidah, barzanji, tajwid dan mengaji kitab perukunan. Setelah menyelesaikan dua tingkat di atas, para murid ada yang langsung terjun ke masyarakat, dan ada pula yang melanjutkan ke tingkat berikutnya, yang disebut “pengajian kitab”. Pada tingkat pengajian kitab ini terdiri dari ilmu sharaf dan nahu (grametika bahasa Arab), ilmu fiqh, ilmu tafsir, dan ilmu tasawuf. Kemudian, terdapat pula surau yang menerapkan tareqat sebagai lembaga pendidikan tasawuf, seperti tareqat Naqsabandiyah, Syatariyah, Samaniyah dan sebagainya (Mahmud Yunus, 1993: 33-47).

Adapun metode yang dilakukan pada umumnya adalah metode halaqah dengan pendekatan individual, khususnya dalam menerapkan pendidikan Alquran dan pengajian kitab lainnya. Pendekatan individual diperlukan oleh seorang guru yang memberikan materi sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik. Sementara pendidikan ibadah dan akhlak lebih menekankan pada metode pembiasaan dan keteladanan, seperti pembiasaan pelaksanaan shalat berjamaah, khususnya shalat Maghrib, Isya dan Shubuh serta keteladanan akhlak mulia yang dicontohkan guru. Selain itu, dalam pendidikan surau, Tuanku Syekh juga memberdayakan murid-murid yang “senior” atau biasa disebut “guru tuo” menjadi guru bagi murid-murid di kelas rendah. Dalam pendidikan modern, cara ini dikenal dengan istilah “tutor sebaya”. Sedangkan pendekatan pendidikan surau dilakukan dengan cara guru memposisikan murid bagian dari dirinya, guru dan orang tua murid bagai sekeluarga, masyarakat merasakan surau dan pendikdikannya tanggung jawab mereka, serta guru dan murid ikut dalam kegiatan masyarakat baik suka maupun duka.

3. Implementasi Pendidikan Nuansa Surau

Dalam pengimplementasian pendidikan bernuansa surau pada tahap awal difokuskan pada pendidikan al-Qur’an sebagaimana yang diamanatkan dalam perda no 3 tahun 2007 pasal 2 bahwa: “ Pendidikan Al-Qur’an dimaksudkan sebagai upaya strategis dan sistematis dalam membangun dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerminkan ciri-ciri kualitas manusia seutuhnya, sebagai wujud percapaian cita-cita pendidikan nasional.

Pelaksanaan pendidikan al-Qur’an sudah dimulai pada tahun pelajaran 2008/2009. Pelaksanaan tersebut diawali dengan penunjukan beberapa sekolah di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Barat yang menjadi pilot projek. Setelah dilakukan oleh sekolah-sekolah tersebut, pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat kerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Barat untuk menindak lanjuti pelaksanaan PAQ (Pendidikan Al-Qur’an) pada seluruh sekolah yang ada di provinsi Sumatera Barat melalui pembelajaran Muatan Lokal.

Meskipun dalam bentuk PAQ, tapi di dalamnya sudah terkandung beberapa karakter (nilai-nilai) religi dan nilai-nilai ABS-SBK sebagai suatu acuan pelaksanaan pendidikan bernuansa surau. Langkah selanjutnya pemerintah daerah provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menunjuk satu sekolah per kabupaten/kota untuk melaksanakan Pendidikan bernuansa Surau dengan cara meimplementasikan nilai-nilai (karakter) yang terdapat pada PKPBS (Peningkatan Kualitas Pendidikan Bernuansa Surau) ke seluruh mata pelajaran dengan cara mengintergrasikan kegiatan yang mengandung penanaman nilai-nilai tersebut. Bentuk kegiatan penanaman nilai-nilai tersebut digambar dalam silabus mata pelajaran dan sekaligus RPP setiap mata pelajaran tersebut.

III.  PENUTUP

Pendidikan bernuansa surau sebagai salah satu solusi dalam merevitalisasi pendidikan Islam di Sumatera Barat yang telah lama pudar demi untuk membentuk karakter putra-putri Sumatera Barat yang telah terkontaminasi oleh budaya Barat.

Langkah awal yang ditempuh oleh pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan mengeluarkan Perda No 3 tahun 2007 yang berisi tentang pendidikan al-Qur’an yang merupakan motor bagi pembentukan karakter manusia dalam hal ini peserta didik. Langkah berikut pemerintah Sumatera Barat melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Barat dengan menunjuk beberapa sekolah sebagai pilot projek untuk melaksanakan PAQ. Setelah itu dilanjutkan dengan penunjukan beberapa sekolah untuk melaksanakan Pendidikan bernuansa Suarau.

Diharapkan usaha pemerintah Provinsi Sumatera Barat tersebut dapat terealisasi dengan baik dandilaksanakan dengan maksimal terutama oleh sekolah-sekolah yang telah ditunjuk.
—————

Download :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: