Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 22, 2011

Mengembangkan Pembelajaran Sains yang Kontekstual, Efektif, dan Menyenangkan

Mengembangkan Pembelajaran Sains yang Kontekstual, Efektif, dan Menyenangkan

OlehDrs Marijan
(Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulonprogo Yogyakarta)

Kurikulum mutakhir dalam pendidikan kita dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum sains SMP ini menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung kepada siswa dalam mempelajari peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, kehidupan sehari-hari dan masyarakat modern yang sarat dengan teknologi. Dari pengertian ini perlu sekali mengembangkan sejumlah keterampilan proses pada siswa sehingga mereka mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar. Ketrampilan proses ini meliputi ketrampilan mengamati dengan seluruh indera, mengajukan hipotesis, menggunakan alat dan bahan secara benar dengan selalu mempertimbangkan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan secara beragam, menggali dan memilih informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-­gagasan atau memecahkan masalah sehari-hari (KTSP Sains SMP, 2006)

Oleh karenanya, perlu pembelajaran yang mengarah pada tumbuhnya kreativitas siswa dengan bimbingan guru yang inovatif. Namun kenyataannya pembelajaran sains di SMP masih menyimpan banyak permasalahan. Hasil evaluasi terhadap pendidikan sains (IPA) yang telah dilakukan pada tahun 1997 menunjukkan adanya beberapa masalah. Masalah-masalah tersebut adalah: (1) pendidikan sains selama ini dianggap sebagai hal yang didaktik di mana siswa hampir tidak mempunyai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri terhadap ide-ide serta konsep-konsep yang mereka punyai; (2) metode-metode pembelajaran yang diterapkan kurang mampu memotivasi siswa untuk bertanya; (3) pada saat siswa berkesempatan untuk menunjukkan kemampuannya dalam mengungkapkan kembali informasi yang telah diterimanya, seringkali terlihat bahwa pemahaman mereka terhadap informasi tersebut sangat dangkal dan bahkan mereka tampak kurang mempunyai kemampuan untuk memecahkan persoalan yang diberikan kepadanya dengan informasi yang dimilikinya; (4) siswa kurang berkesempatan untuk mielakukan kegiatan praktik, yang antara lain disebabkan oleh strategi pembelajaran yang diterapkan, sarana dan prasarana kurang memadai; (5) proses pembelajaran selama ini masih menganut falsafah dari atas ke bawah dan bukan dari bawah ke atas yang artinya bahwa apa yang dipelajari oleh siswa di kelas merupakan materi pengetahuan tingkat lanjut yang diturunkan dari disiplin ilmu tertentu dan bukan sebaliknya yaitu materi-materi yang menyangkut kehidupaan sehari-hari siswa; (6) kurang adanya konsep yang terintegrasi dan menyatu antara berbagai disiplin ilmu yang diajarkan; dan (7) ujian-ujian tingkat nasional yang diberikan di samping dipengaruhi oleh apa yang telah diajarkan. juga sangat mempengaruhi bagaimana materi tersebut diajarkan (Blazely.1997).

Dalam buku Psychologi Perkembangan, Suryabrata (1978) menulis bahwa kemampuan berpikir abstraksi anak­-anak mulai berkembang pada usia 14-16 tahun. Sementara itu pada usia 12 tahun mereka mulai duduk di kelas 1 SMP. Dengan kata lain, pada usia tersebut anak-­anak mengalami masa transisi di mana mereka membutuhkan pengalaman kongkrit yang menyenangkan sebagai dasar dalam memahami ide-ide abstrak yang diberikan kepadanya. Untuk materi sains, pengalaman kongkrit tersebut dapat diperoleh dari kegiatan praktek di laboratorium, di kelas atau di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, agar pembelajaran sains di tingkat SMP dapat berjalan efektif maka siswa mutlak harus diberi kesempatan untuk praktik dan berinteraksi dengan benda kongkrit.

Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan

Di dalam simposium guru IV di Bogor, tanggal 2 – 9 November 2001  dikembangkanlah istilah PAKEM yang merupakan kependekan (Produktif, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). PAKEM selanjutnya untuk memberi makna suatu proses pembelajaran yang pada hakekatnya merupakan situasi proses pembelajaran yang mengacu kepada kepentingan peserta didik.

Seperti halnya CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) , siswa lebih mengalami sebagai subjek belajar sehingga tidak hanya duduk dan mendengarkan ceramah dari gurunya. Dalam penerapan konsep PAKEM siswa tidak sekadar aktif tetapi lebih memberdayakan siswa, sarana dan prasarana, guru dan pembentukan situasi pembelajaran yang memadai dan menarik bagi segenap komponen pendidikan dan utamanya menyenangkan siswa.

Apabila guru mampu menerapkan strategi pembelajaran sains dengan konsep PAKEM maka diharapkan mutu pembelajaran akan meningkat sebagai strategi dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan kita. Sebuah proses pembelajaran dianggap PAKEM apabila sekurang-kurangnya meliputi hal-hal seperti di bawah ini, yakni : (a) guru tidak menganggap anak sebagai botol kosong atau pun kertas putih yang tak berkarakter; (b) hubungan guru dengan murid berlangsung dalam kekerabatan tanpa jarak yang menegangkan; (c) guru terus-menerus menggali dan menghargai pendapat anak, mengembangkan yang benar dan meluruskan yang kurang tepat bukan menghukum terus-terusan terhadapnya; (d) guru memanfaatkan dan menggunakan  pengalaman langsung anak; (e) pembelajaran selalu berupa proses pemecahan masalah secara praktis sehingga anak tahu cara menyelesaikan kesulitan sesuai dengan umurnya; (f) guru memanfaatkan semua sarana dan prasarana yang ada, tidak hanya menceramahi saja ; dan (g) guru bersama anak setiap kali membuat, mengembangan dan memanfaatkan alat peraga sederhana mudah dan murah.

Pembelajaran yang berbasis PAKEM benar-benar mengajak siswa maupun guru untuk inovatif menumbuhkan ide-ide baru yang menyenangkan dalam upaya penguasaan informasi tentang suatu objek sains. Guru tidak bisa hanya menyuruh siswa untuk mencatat materi dan menyuruh menghafal semata-mata. Akan tetapi , guru harus memberi kesempatan anak bertanya , berdiskusi, mengamati, bereksprimen, menyelidiki dan lain sebagainya. Pendek kata guru sains harus berusaha menumbuhkan sikap dan perilaku ilmiah dengan cara memberikan latihan kepada siswa melakukan kegiatan ilmiah yang dilandasi rasa senang .

Bagaimana pembelajaran sains yang dapat produktif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan siswa ? Tentu, tugas guru bukan hanya mengejar situasi yang menyenangkan siswa saja atau menonjolkan salah satu sikap yang dicanangkan dalam PAKEM tetapi secara terpadu dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang produktif, siswanya aktif, unsur kreativitas terbentuk, efektif dapat meraih tujuan pembelajaran dalam suasana yang menyenangkan. Kegiatan yang perlu dilakukan untuk menciptakan proses pembelajaran berbasis PAKEM adalah sebagai berikut:

Pertama, memberdayakan siswa dalam keterlibatannya pada proses pembelajaran. Siswa dikondisikan agar benar-benar aktif menggunakan segenap inderanya untuk membangun pengetahuan dan pemahamannya tentang suatu objek sains. Pengetahuan  diperoleh melalui proses bekerja aktif baik ranah kognitif, afektif maupun  psikomotoriknya. Siswa akan lebih memahami pengetahuan yang diperoleh karena bukan hasil suapan atau pun pemberian paksa dari gurunya melainkan hasil belajar yang dibangun oleh dirinya sendiri.

Kedua, membimbing kerja siswa agar tidak terlepas nuansa ilmiahnya. Melalui tahapan pengenalan objek, penyelidikan, penemuan dan penerapan dalam kerja ilmiah, siswa akan terbiasa bekerja dengan persiapan yang runtut sesuai metode ilmiah. Dengan seringnya siswa bekerja secara ilmiah melahirkan sikap-sikap ilmiah ada pada diri siswa. Teliti, dan mampu menafsirkan data merupakan sikap ilmiah yang diharapkan dimiliki oleh mereka.

Ketiga, siswa dibiasakan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. Bekerja kelompok bagi siswa sangat penting artinya karena akan mengembangkan aspek efektif (nilai keutamaan hidup). Toleransi, peduli terhadap orang lain dan lingkungan, serta menyadari bahwa hidup ini tak bisa melepaskan diri dari keberadaan orang lain merupakan sikap-sikap yang tumbuh dari kebiasaan bekerja secara kelompok. Sikap merasa mempunyai tanggung jawab bersama atas keberhasilan kerja kelompoknya juga berkembang pada diri mereka. Pendidikan yang mengedepankan bekerja secara kelompok ini sesungguhnya cara paling efektif untuk mencapai kedamaian.

Keempat, membiasakan siswa melakukan diskusi dengan temannya. Kecuali suasana pembelajaran yang tidak menegangkan, diskusi akan membekali siswa untuk memahami arti demokrasi dan makna kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan tak ada yang mutlak karena dibatasi oleh kebebasan orang lain. Dalam diskusi akan terlatih betapa temannya juga mempunyai pendapat yang berbeda tentang fenomena suatu objek sains yang sama. Kebiasaan diskusi akan mengembangkan sikap bertanggung jawab, kemampuan ketrampilan berbahasa dan daya argumentasi akan tumbuh subur. Dari kebiasaan melakukan  diskusi ini, kemampuan dan sikap kritis anak akan berkembang.

Kelima, menjadikan ruangan kelas sebagai lingkungan belajar yang menyenangkan bagi anak. Hasil pekerjaan anak bisa dipajang di dinding kelas sebagai wahana menumbuhkan rasa percaya diri dan koreksi diri. Kreativitas dalam membentuk model pemajangan hasil karyanya pun semakin lama bertambah menarik. Guru juga dapat memajang kreativitasnya dengan memberikan satu model pemajangan yang menarik dan mengesankan siswa. Demikian juga hasil-­hasil penelitian sains bisa dipajang di dinding laboratorium.

Keenam, ruangan belajar tidak monoton di dalam tembok kelas. Halaman, kebun, perpustakaan, laboratorium, kolam, sungai, lapangan dan lingkungan sekitar yang lain merupakan tempat belajar yang menyegarkan. Belajar di luar kelas akan mengakrabkan antar siswa dan siswa dengan guru. Pembelajaran berdasarkan keakraban akan memupuk rasa senang dan tidak membosankan. Pembelajaran yang dilakukan dilandasi rasa senang akan sangat bermakna dan berkesan di benak anak. Tidak adanya rasa keterpaksaan adalah modal dasar dalam mereguk ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang ditampilkan dalam proses pembelajaran tersebut.

Ketujuh, guru segera memberikan umpan balik kepada siswa untuk meningkatkan kegiatan belajar. Guru tidak perlu jual mahal memberikan pujian terhadap siswa yang berhasil baik. Demikian juga terhadap siswa yang kurang berhasil hendaknya bersedia memberikan layanan bimbingan yang dilandasi dengan kesabaran. Guru harus menyadari bahwa setiap siswa mempunyai karakter yang berbeda. Selain itu hasil pekerjaan tes ataupun tugas yang dikerjakan siswa hendaknya segera diperiksa, dikembalikan kepada siswa dan mengkomunikasikannya dengan orang tua anak.

Kedelapan, guru selalu memberi motivasi kepada siswa agar mereka tertanam dan terpupuk di dalam benaknya tentang pentingnya kemauan dan semangat bekerja keras, disiplin, teratur dalam memenejemen waktu, berbudi pekerti luhur, bertaqwa terhadap Tuhan dan selalu meningkatkan keaktifan fisik dan mentalnya. Guru hendaknya menegaskan tentang aktivitas dengan jelas. Hal ini dimaksudkan agar aktivitas anak benar­benar terlatih untuk berpikir secara aktif dan terarah. Jadi aktivitas dimaksud bukan hanya dalam arti banyak kesibukan.

Implementasi Pendidikan Sains dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang akan cliberlakukan serentak secara nasional sangatlah berbeda dengan kurikulum 1994 yang berjalan selama ini. Kompetensi dalam KBK rumpun pelajaran sains meliputi kemampuan dan kecakapan kerja ilmiah serta pemahaman konsep.

Kompetensi dalam hal kerja ilmiah meliputi: (1) penyelidikan (penelitian), (2) berkomunikasi ilmiah, (3) pengembangan kreativitas clan pemecahan masalah, (4) bersikap ilmiah, (5) pemahaman sains dan teknologi, clan (6) dampak sains dan teknologi pada lingkungan. Adapun pemahaman konsep adalah kompetensi yang dimiliki siswa dalam hubungannya dengan penguasaan suatu materi sains baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. ( KTSP, Sains 2006).

Berdasarkan kompetensi yang harus dimiliki siswa tersebut sewajarnya jika orientasi pembelajaran bukanlah pencapaian nilai evaluasi akhir karena nilai evaluasi akhir tidak ada artinya sama sekali bagi kepentingan anak masa depan. Agar kompetensi itu dapat dicapai oleh anak maka pada prinsipnya pendidikan itu diharapkan menjadi wahana anak menTperoleh pengalaman hidup. Disadari atau tidak sesungguhnya sekolah itu merupakan ajang untuk latihan hidup di kemudian hari. Oleh karenanya, kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa menjadikan pengalaman hidup di dalam pembelajarannya.

Sebagaimana diungkapkan Djohar (2003), UNESCO menegaskan agar proses pembelajaran paling tidak diarahkan pads 4 pilar kegiatan, yakni : (1) belajar untuk tahu (learning to know), (2) belajar untuk berbuat (learning to do), (3) belajar untuk bersama (learning to live together), dan (4) belajar untuk membentuk jati diri (learning to be).

Implementasi pembelajaran sains biologi dalam KBK sangat relevan terhadap 4 pilar kegiatan standard dari UNESCO tersebut. Belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk hidup dalam kebersamaan dan belajar untuk menjadi dirinya sendiri mustahil bisa dicapai siswa apabila metode pembelajarannya ceramah terns menerus. Oleh karenanya pembelajaran sains (biologi) diupayakan mengakrabkan siswa dengan objek sains yang ada di lingkungan sekitar. Dengan kata lain siswa mutlak harus berhubungan langsung dengan objek sains yang sedang dipelajarinya. Alhasil, pengetahuan yang diperoleh siswa bukan hasil pemberitahuan guru melainkan lebih merupakan bangunan kokoh yang dibentuk siswa sendiri.

Jadi pembelajaran sains pada dasarnya tak bisa lepas dari lingkungan alam sekitar yang sebenarnya karena di alam inilah objek sains berada, fenomena (peristiwa) tersaji dan hubungan timbal batik antara objek, fenomena dan masyarakatnya dapat dengan jelas di data. Efektivitas pembelajaran sains memang signifikan dengan besarnya pemanfaatan lingkungan sekitar. Artinya pembelajaran sains yang memanfaatkan lingkungan sekitar merupakan kegiatan menggali pengetahuan dari objek / peristiwa yang sebenarnya. Pembelajaran yang demikianlah menuntun siswa untuk tidak menerima bahan jadi dari pemberian guru melainkan hasil melakukan kegiatan sains.

Sebagaimana dikemukakan Sutardi (1981) bahwa pemanfaatan alam sekitar dalam pembelajaran sains (biologi) mutlak dibutuhkan karena alam sekitar memegang pecan yang sangat penting dalam hal: (1) sumber bahan untuk praktikum, (2) sumber bahan untuk alat peraga, (3) sumber objek , dan (4) sumber masalah .

Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi usaha pemanfaatan alam sekitar sebagai sumber belajar lebih ditentukan oleh sikap guru pengampu mats pelajaran sains. Faktor-faktor tersebut adalah: kemauan clan niat guru, kemampuan guru untuk dapat melihat masalah dari alam sekitar dan kemampuan guru untuk dapat menggunakan sumber alam sekitar itu dalam pembelajaran sains.

Agar pembelajaran sains tetap efektif dan menyenangkan maka guru sains diharapkan dapat memberdayakan siswa. Djohar (2003) memberikan stimulus pemberdayaan siswa dengan cara: (1) tumbuhkan, (2) alami, (3) namai, (4) demonstrasikan, ( 5 ) ulangi dan (6) rayakan.

Menumbuhkan dimaksudkan mengundang minat siswa bahwa apa yang dipelajari bermanfaat “bagiku.” Dengan demikian siswa akan sangat tertarik mempelajarinya karena dilandasi ada kemanfaatan baginya. Alami pads dasamya upaya menciptakan pengalaman nyata pada siswa. Oleh karenanya objek alam sekitar sains harus benar-benar dihadapkan siswa sepanjang keselamatan dan keefektifannya terjaga. Namai mengandung arti simbolisasi konsep yang diperoleh dari pembelajaran itu. Mendemonstrasikan diartikan penciptaan kesempatan agar siuswa dapat menampilkan perolehan belajar mereka. Ulangi pada dasarnya adalah kesempatan siswa untuk validasi dan pemantapan terhadap perolehan belajar yang benar­benar dimiliki oleh dirinya. Rayakan pada dasarnya adalah pengakuan kita bahwa siswa itu memperoleh sesuatu dari proses pembelajarannya.

Di era yang makin carat informasi ini menuntut adanya pergeseran peran guru di dalam kelas. Guru tidak lagi melulu sebagai pengajar melainkan sebagai pengarah dan pembimbing. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Dikatakan oleh Suhardi ( 2003) bahwa tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim (terdiri dari kelompok-­kelompok belajar) yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang barn bagi anggota kelas (siswa) berupa pengetahuan clan ketrampilan.

Pembelajaran yang mengacu pada pemberdayaan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuan dan ketrampilan sebagaimana didengung-dengungkan sekarang ini disebut kontekstual.Pembelajaran kontekstual berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja clan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari uru ke siswa. Pembelajaran model kontekstual diharapkan akan lebih  bermakna dalam penguasaan materi. Target penguasaan materi diharapkan bersarang di otak siswa tidak hanya dalam jangka pendek tetapi lebih membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Pembelajaran yang  menyenangkan akan membuat kerasan siswa mengikuti proses tersebut. Sebaliknya pembelajaran yang menegangkan dan menyeramkan bagi siswa dapat dimungkinkan sebagai penyebab ketidakaktifan siswa mengikutinya. Bahkan keticlakhadiran siswa dapat dimungkinkan oleh proses pembelajaran yang ticlak menarik. Oleh karenanya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan memang harus diupayakan clan dilaksanakan dalam pembelajaran sains. Dengan demikian anggapan bahwa pelajaran sains itu sulit, menakutkan clan tak menarik seclapat mungkin kita sebagai guru sains dapat mengubah asumsi ini. Menjadikan pelajaran sains itu menyenangkan , menarik, mengesankan dan terasa muclah harus diupayakan semaksimal mungkin. Tugas berat inilah menjacli tanggung jawab sepenuhnya guru sains itu sendiri. Mari kita coba !

Penutup

Pembangunan pendidikan merupakan kunci pintu kemajuan. Untuk itu agar tidak ketinggalan jauh dengan negara-negara berkembang lainnya dunia pendidikan kita tidak boleh berjalan di tempat. Oleh karenanya pembangunan bidang pendidikan selayaknya dipacu terns.

Salah satu langkah untuk menyiasati kemajuan jaman adalah pembaharuan kurikulum di samping upaya optimalisasi komponen-komponen pendidikan yang lain. Kurikulum sains terkini adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Pada prinsipnya kurikulum sains ini menuntut kerja guru sains tidak sekedar memenuhi target materi sebagaimana kurikulum sebelumnya. Akan tetapi, guru diharapkan mampu memberdayakan siswanya untuk mengerti konsep-konsep sains, mengembangkan sejumlah ketrampilan proses dan memupuk tumbuhnya sikap ilmiah .

Sehubungan objek sains adalah lingkungan sekitar dan peristiwa – peristiwa alam nyata maka pembelajaran sains diharapkan memberdayakan siswa untuk aktif menggunakan segenap indera guna mengamati, menclata clan menafsirkan gejala sains yang ada di sekitarnya. Inilah prinsip pembelajaran kontekstual.

Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran berbasis kontekstual ini diperlukan suasana/iklim yang menyenangkan guna mengantisipasi kebosanan siswa. Penciptaan suasana yang menyenangkan inilah menjadi tugas guru sains. Untuk menjaga agar suasana tetap menyenangkan guru diharapkan bersikap sederhana, jujur, adil, familier, bijaksana, demokratif dan tentu saja pengetahuan, ketrampilan dan sikap sainsnya bisa diteladani siswa. Apabila guru sains mampu membawa siswa mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap ilmiahnya maka boleh dikatakan guru efektif. Dan tentu saja guru efektif inilah menjadi dambaan siswa, masyarakat dan negara.

————–
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Sangat Setuju!!!
    Mengembangkan Pembelajaran-Aktif Kontekstual, Efektif, dan Menyenangkan…

    Tidak usah membuang terlalu banyak waktu dengan ICT karena “ICT adalah teknologi yang “Paling Tidak Tepat Guna” untuk Pendidikan Umum Yang Bermutu di Indonesia. ICT dapat membunuh kreativitas, sangat terbatas oleh kekurangan infrastruktur, maupun biaya perawatan yang sangat mahal, banyak sekolah tidak dapat merawat sekolah saja, maupun ratusan komputer (puluhan juta secara nasional)…. ”

    “ICT dapat membunuh kreativitas” – http://TeknologiPendidikan.Com

    ICT (khusus LCD) juga dapat mengancam perkembangan Pembelajaran-Aktif (Student Centered Learning) yang adalah Kunci Untuk Pendidikan Yang Bermutu.

    Kalau ingin meningkatkan Mutu Pendidikan – http://Metodologi.Com

    Salam Pendidikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: