Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 3, 2012

Jalan-Jalan Tiga Propinsi: Batusangkar, Danau Toba, Medan dan Pekan Baru (Istana Maimun di Medan semraut……)

Jalan-Jalan Tiga Propinsi:
Batusangkar, Danau Toba, Medan dan Pekan Baru
(Istana Maimun di Medan semraut……)

Oleh: Marjohan, M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)
e-Mail: marjohanusman@yahoo.com

Wah akhirnya perjalanan tour atau studi tour kami selama seminggu ke Medan Propinsi Riau berakhir. Aku harus merecall semua memoriku. Pasti rencana studi tour ini juga sudah direncanakan oleh setiap guru dan diberitahu kepada anggota keluarga masing-masing. Aku juga memberitahu pada istri dan kedua anakku.

Tour kami dimulai tanggal 25 Desember 2011 dan kami berkumpul di kampus SMAN 3 Batusangkar. Sopir kami adalah Pak Tom dan co-driver adalah Pak Datuk dari Simpurut akan mengendarai mobil Pemda dengan merek “Tuah Sepakat” sampai tanggal 31 Desember 2011. Pas sekali dengan hari perrnikahan Sense Ayu dengan soulmatenya Om Ridwan di kampungnya Padang Panjang.

Akhirnya mobil kami melaju menuju Sungai Ttarab, Salimpaung, belok kiri menuju jalan ke-Bukittinggi. Belum lama berjalan kami sudah rebutan untuk memperoleh snack yang dibawa oleh para guru. Abi Marta memperkenalkan lapek durian masakan Buk Sumri Marta. Buk Retno membawa duku manis. Miss Dini membawa kue, Buk Yani, Buk Dona, Miss Messy juga membawa snack yang lain. Begitu pula dengan Bu Arifna dan Bu Dona menunggu dengan karupaknya dari kampungnya di Biaro Bukitinggi. Bayinya dititip pada nenek sang bayi.

Guru laki- laki boleh tidak membawa tentangan dan tidak bawa apa apa….eh kami hanya jadi juru makan. Iya ini kan atas nama persahabatan. Belum jauh melaju, mr Ay sudah mempersiapkan tempat duduk dan tempat istirahat yang enak di bangku belakang.

Kelak tempat itu bakal jadi rebutan antara Pak Osrimal, Pak Editi, Abi Marta, Pak Yal, Pak Datuk, Pak Datuk Stokar dan Pak kepala Sekolah- Rosfairil.
Masuk nagari Baso hujan lebat turun dan pemandangan jadi kelabu. Sementara itu sebagian guru masih aktif makan dan minum dan akhirnya mereka juga butuh toilet untuk pembuangan. Kami berhenti di Mesjid Raya Muara Manggung, Lubuk Sikapiang untuk kebutuhan tolilet dan sholat. Lepas batas Lubuk Sikaping hari sudah di rembang sore. Melewati taman di kota panti, kami melihat pohon dengan akar nafas.

Kami berada dalam mobil cukup lama hingga mobil kami berhenti di rumah makan “Duta Selera” di depan kantor Dinas Bina Marga- Kota Nopan. Kami selalu butuh toilet, sholat jamak magrib dan isya dan juga dinner. Ada temaqn yang membawa nasi dan aku dinner bareng dengan Pak Rosfairil, juga ada Mr. Ay serta Pak Adriyon/ ketua komite.

Jam 2.30 dini hari kami berhenti lagi di resto di kota Sipirok- Restoran Minang Maimbau, ini memang kedai nasi Islam. Tentu saja Pak sopir perlu melepas ngantuk dan lelah dengan segelas kopi. Lagi lagi kami melaju. Kami sholat subuh di kota kecil Porsea, mesjid kecil, karena susah cari mesjid buat sholat subuh dan kami sholat subuh sudah lewat pukul 6.00 pagi. Porsea adalah pusat Kristen yang besar di Tanah Batak.

Jalan yang kami lewati cukup jelek, jalan propinsi banyak lobangnya. Aku baru melihat keindahan alam di kota ini , ya ibarat di Sumbar atau Tanah Datar saja. Bedanya di sana ada budaya gereja dan nama mobil serta kota juga beda. Kami kemudian melewati kota kecil “Lumban Julu” sebuah kota pertanian. Lagi-lagi jalan rayanya kurang terawat berlobang- lobang. Kok bisa begini ya, pada hal Sumatera Utara itu kaya dengan industry pertanian sawit dan karet. Nanun jalan raya saja kurang terurus.

Akhirnya kami berhenti di SPBU (pom bensin) di kota Prapat, di pinggir Danau Toba. Kami memasuki gerbang Danau Toba dan kami dihentikan oleh petugas untuk retribusi. Kalau boleh di sana ada aba- aba atau papan pengumuman. Kami kemudian menuju pelabuhan Tigaraja karena kami sudah booking di sana untuk menyeberang ke pulau Samosir. Suasana bisnis seputar pinggir danau terlihat.

Kami mencari areal parkir dan kami di sini makan pagi di kota kecil Tiga Raja. Daerahnya kurang bersih…pada hal seharusnya daerah ini dijadikan sebagai daerah “tourist destination” dengan kyualitas kebersihan yang berstandar internasional- namun ya ampun….sampah dan kualitas jalan yang jelek.
Pulau Samosir adalah pulau kecil yang berbukit- bukit dalam Danau Toba. Makan pagi….”ya ampun selera kami jadi hilang, suasana dikelilingi oleh makanan yang tidak halal”. Untung kami bawa goreng ayam, goreng kacang…dan kami coba mencari restoran halal, namun tetap kurang yakin kehalalannya.

Habis makan pagi, Mr Ay kasih tahu bahwa “orang motor boat” sudah datang dan kami harus menurunkan bagasi dari mobil. Aku berfikir kalau ada ferry yang bisa membawa mobil ke pulau ternyata mobil kami diparkir…dan kami menyeberang pakai kapal motor dengan merek caterina. Kami membawa tas/ bagasi dan mengambil foto foto di dermaga dan masuk boat, aku juga naik ke boat lantai dua. Aku melihat nakhoda stir kapal. Terasa Danau Toba begitu mempesona dan memang luas. Kami keliling Pulau Samosir dengan kapal motor carolina milik dari carolina cottage. Boat kami kemudian berlayar membawa kami ke desa Simanindo…kami juga belajar tari tor tor.

Kami terus ke hotel … , aku ngomong- ngommong dengan bule dari Sweden. Nama mereka Eva dan ullamo. Aku jadi asyik ngobrol dan Pak Datuk Edimaizul juga agak lama di kamar mandi sehingga aku tidak sempat sholat zuhur, kecuali mandi dan ganti baju..kami mengunjung desa di pulau Samosir aku lupa namanya. Kami melihat souvenir

Disuguhi keterangan tentang budaya Batak, wah aku dikelilingi anak-anak mungkin karena aku pencinta anak anak. Inang-inang penjual souvenir merayuku dan aku beli t- shirt 4 helai buat dibawa pulang.

“Aku hampir tak bisa menghindari rayuan penjual souvenir”
Kami terus berlayar ke desa Tomok…aku tidak turun dari kapal motor Carolina dan aku memutuskan untuk merlakukan sholat- jamak zuhur dengan sholat ashar di atas kapal dan nakhoda yang beragama nasrani tersebut mempersilahkan dan ia turun ke bawah. Kalau turun aku pasti shopping lagi dan I have no money. Aku lama menunggu, nakhoda pasti juga sudah bosan menunggu.

“Lama juga menunggu teman yang pergi shopping dan matahari terbenam. di ufuk barat. Nakhoda sudah separoh kesal…. Come back ke lekjon cottage di desa Tuk Tuk “

Hari ke dua, kami berada dalam pulau Samosir. Semalaman aku tidur cepat, teman-teman yang lain main bilyar dan yang perempuan berkumpul sesama mereka. Aku bangun jam 2 dini hari (tengah malam) buat sholat isya dan kemudian aku tidur lagi. Wah bangun di waktu subuh aku merasa bugar- terus sholat dan menulis pengalaman melalui note pada phonecel-ku.

Aku tak bisa menikmati makanan. Walau kami hanya makan sayur, ikan , ayam namun kami terbayang ada babi guling di atas piring kami pada hari-hari sebelumnya. Ya kalau boleh makanan halal juga menggunakan piring halal. Kemudian daging ayam walau halal, namun kalau penyembelihannya tidak benar juga bisa jadi tidak halal.

“Makan pagi kami sudah dihidangankan oleh mom Mulyanis ya….ludes semua”. Aku melepaskan pandangan ke danau Toba dan aku jadi tahu bahwa ada boat sebagai motor ojek air. Kapal muara yang lewat pake klakson untuk cari penompang. Aku berdialog dengan dengan seorang wisatawan berwajah India, namanya “Kunal”. Temannya from USA tidak suka dengan cuaca di sana yang dingin dan berawan , mmaklum lagi musim dingin di USA. Itulah alasan mereka memutuskan berlibur di Danau Toba yang tropis ini. Aku sempat bertukar account facebook dan accountnya “Kunal Ramu Murti”.

Aku melihat wisman barat 2 pasang berkemas “say goodbye”. Pak Editi memajang kopernya…dan nakhoda kapal motor meniupkan klakson…no kami punya kapal muara yang ditunggu. Akhirnya kami juga “say good bye juga pada 2 teman asal Sweden , Eva dan Ullamo. Mereka berdua keluar to give warm goodbye…”.

Teman teman bercanda. “Mr joe pacarmu nenek-nenek say good bye”.
“Iya no probleme…aku cari pacar bule, cari satu dapat dua”. Semua jadi tertawa. “Ya penting bule ya….nenek-nenek no probleme”. Sambungku lagi.
Kami semua on board. Kami take foto. Dari kejauhan teman swediaku yang sudah berusia nenek-nenek masih setia melambaikan tangannya dan tidak terasa kami berlabuh lagi di pelabuha tiga raja. Kami melanjutkan perjalanan. Jam 10 pagi kami tiba lagi di Prapat, aku lihat banyak restoran milik orang Minang sepanjang jalan di daerah non muslim itu. Aku juga melihat kramba ikan milik nelayan dan banyak gereja yang bertengger di kaki bukit. Ya Pemandangannya mirip di Danau Maninjau.

Semboyan lingkungan Danau Toba adalah “Toba go green”. Dan bukit sekitar Danau Toba memang jadi green. Keberaan banyak danau di Pulau Sumatera ya berkah Allah bagi Pulau Sumatra. Kami beruntung selama berlayar di danau Toba kemaren cuaca begitu cerah. Setelah ke luar Danau Toba hujan turun cukup lerbat.

“Jalan kami menanjak entah kemana. Aku tidak tahu karena ini kali pertama aku melalui daerah ini. Di pinggir kami jurang cukup dalam”.
Kami berada di Kabupaten Simalungun. Pohon kayu terlihat sudah besar besar. Tak lama kemudian kami tiba di sektor Aek Nauli dengan lingkungan alam yang begitu hijau.

Terasa enak laju mobil kami melewati jalan berhutan dengan pohon- pohon yang tinggi. Sayang di jalan raya di kota ini tidak banyak rambu-rambu lalu lintas dan tulisan buat pengguna jalan di sepanjang jalan raya.

Kami sdh jauh dari danau. Aku tak punya snack untuk dikudap dalam perjalanan. But oke..tapi untung tadi pagi aku sempat makan apple untuk kesehatan pencernaan. O… ya aku jadi ingat bahwa listrik di Pulau Ssamosir berasal dari PLTA Sigura-Gura…yang kabelnya lewat dasar danau Toba.

Aku lihat di kota kecil TigaBbalata di Simmalungun suasananya mirip di Sumbar saja. Aku lihat ada moto: i shame if am late- moto pada gerbang sekolah. Wah pemandangannya boring dalam hutan sawit melulu. Aku juga melihat pekerja sibuk menyemprot rumput dengan round up di seputar pohon sawit dan juga menumpukan pelepah sawit untuk disingkirkan.

Akhirnya kami keluar dari wilayah Danau Toba. Kami berada di Pematang Siantar. Ya jarang tampak mesjid, dan banyak gereja dan kuburan keluarga khas hkbp- huriah kriten batak protestan. Lucun ya di jalan Sisingamangaraja Siantar ada perempatan jalan yang tanpa traffic light.

Lepas dari daerah Pematang Siantar aku melihat laang jagung yang luas dan lahan ubi buat tepung gaplek, juga lahan karet. Semua dikelola oleh perusahaan. Kebun karet begitu luas dari pinggir kota Siantar terus ke daerah Tebing Tinggu. Lepas dari daerah Tebingtinggi juga terbentang kebun karet yg luas.

O…disana juga ada rel kereta api di Tebingtinggi. Kota Tebing Tinggi cukup besar. Aku tahu bahwa karet diolah pada babrik latek di Tebing Tinggi.

Kami kemudian berhenti di rumah makan dalam kota Tebing Tinggi. Di sini aku merasakan makan siang enak yang pertama dalam tour kami. Aku tidak ikut makan di rumah makan. Meskipun rumah makan milik orang Pariaman, namun aku makan siang dalam mobil bareng dengan Abi Marta dan guru guru wanita. Wah ternyata untuk sampai ke kota Medan kami butuh waktu satu dan setengah jam lagi.

Kami berada kemudian di kota kecil Sungai Rampah, suasana muslim makin terasa, banyak mesjid sepanjang jalan. Kebun sawit juga luas. Kami sampai di daerah Sungai Si Jenggi – yaitu di daerah Perbaungan dimana terasa suasana Melayunya. Jalan kereta api sepanjang jalan raya Perbaungan. Kotanya cukup besar. Ketika melintasi daerah ini hujan begitu lebat.

Di kota Perbaungan terdapat daerah sawah yang cukup luas. Setelah itu kami pun berada di Lubuk Pakam- wilayah Deli Serdang. Kemudian terus Tanjung Morawa. Al last kami semua tiba di kota Medan. Medan sebagai kota besar punya banyak beca ojek.

Jadi dari Danau Toba ke Medan, kami membutuhkan waktu selama 5 jam perjalanan.
Kami cek in di hotel Garuda Citra. Aku sekamar dengan Osrimal di kamar nomor 102 . Sebelah kamar ada room buat meeting, namun tidak bising. Habis magrib Abi Marta mengajak ke Medan Plaza, kami naik beca dayung sewanya RP. 15 ribu untuk berdua. Aku melihat lihat pakaian, dan terakhir aku membeli dua buku belajar bahasaa Inggris lewat cerita lucu dan humor. Harganya ringan dan buku ini bermanfaat buat anakku dan murid muridku. Pulang ke hotel dan aku kemudia bayar beli pulsa dan ongkos beca pada Marta.

Perut jadi keroncongan dan kami keluar lagi buat beli bandrek. Aku baru tahu kalau bandrek itu minuman susu pakai jahe dan bagus untuk menghangatkan tubuh. Kami kembali ke hotel, ngumpul ngumpul di kamar Marta. Ada yang datang, Buk Arifna membawa goreng ikan. Mr Ay dan dan pak Hendun menjemput magic com dari mobil and we have a dinner.

Wah tidak terasa sudah hari ke tiga kami berada dalam grande voyage ini, yaitu tanggal 28 Desember 2011. Jadi daerah yang aku lalui dari Sumatera Barat ke Medan cukup banyak yaitu “Penyabungan- Kabupaten Mandailing Nnatal (Muara Sipongi, Kota Nopan), Padang Sidempuan (Tapanuli Selatan), Tarutung (Tapanuli Utara), Balige (Toba- Samosir), dan kami berhenti di Porsea untuk sholat subuh walau sudah pukul 6.00 pagi….”ha..ha…sulit kami mencari mesjid”. Terus ke Lumban Luju, Parapat dan terus ke pantai … (Ya bermalam di Pulau Samosir). Parapat belok kanan di Aek Naoli- Pematang Siantar – Kab Simalungun, Tebing Tinggi- Lubuk Pakam- Kab Deli Serdang. Kotamadya Medan juga besar…kita juga bisa menuju ke utara ke kota kecil “Labuhan Deli” dan Belawan.
Kami disediakan sarapan oleh hotel. Aku segera bergabung sarapan dan ngobrol bareng dengan Pak Datuk- bus konduktor. Aku menyukai nasi goreng, makan buah melon papaya dan juga morning tea. Pagi ini kami jalan-jalan ke Istana Maimun.. Cukup jalan kaki.

Usai melihat-lihat di Istana Maimoon, aku jumpa dengan Wibowo Saptari, seorang volunteer Kangguru Radio English yang pernah datang ke acara kangguru di Batusangkar.

Kami kemudian ke pusat pasar…kami menyebar..dan aku pergi lagi dengan Abi Marta berkeliling…ya cari minuman dan makanan. Aku letih dan aku istirahat dekat mobill sampai datang teman teman.

Pak Rosfairil datang bawa goreng pisang buat sopir. Aku selunjuran di emperan toko di sebelah mobil di pusat belanja kota Medan. Kami belum sholat… Ya kami cari mesjid. “Oh ada mesjid di atas pertokoan namanya “Mesjid Istiqomah” dan kami sholat jamak taqdim zuhur dan ashar- maklum kamikan masih musyafir.
Habis sholat aku bincang bincang dengan penjual parfum dan aku beli dua botol parfum. Satu botol 10.000 IDR, kalau 2 botol ya 16.000 IDR. Selanjutnya kami menuju bus dan siap menuju Pekan Baru. Mobil ke luar kota Medan untuk menuju Tanjung Morawa lewat jalan toll….ya sudah seperti jalan toll di Malaysia saja . Ternyata dalam peta tanda jalan putih….jalan toll dan juga jalur baru.

Di jalan toll Tanjung Morawa…belok kiri itu ke Tebing Tinggi.. Kota Tanjung Morawa sedang berbenah , ekonominya menggeliat. Jalan raya di sini beda dengan jalur barat yg aku lalui sejak dari Pasaman ke Toba- banyak jalan berlobang.

“Lubuk pakam….ya”
Kami berhenti di Pasar Bengkel untuk shopping bika ambone dan snack dan numpang sholat ashar. Kami melaju lagi hingga perbatasan dengan Deliserdang ya turun lagi ke selatan….Kab Serdang Bedagai…juga luas dengan kotanya bernama Sungai Rampah.

Kami memasuki kota Tebing Tinggi menjelang waktu maghrib. Arus lalu lintas tetap ramai. Tebing tinggi berada di Kab. Binjai,di sana kebun sawit cukup luas, oh yaaa juga ada kebun rambutan dan kebun karet yg luas. Juga ada kebun pisang dan coklat milik penduduk. Kami melewati kabupaten Batu Bara…ada Kecamatan Indrapura.

Larut magrib kami lewat di pasar Asahan/ kota Kisaran, sebuah kota pertanian. Kota ini juga dilalui jalan kereta api. Wah sudah gelap tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati kecuali…silhoute kebun sawit. Kami melintasi Sungai Asahan ya cukup luas.

Mobil kami berhenti lagi dan kami sholat di Mesjid Al-Hilal di kota kecil Simpang Kawat. Lokasinya di bengkolan dengan kalu lintas yang cukup ramai. Go on lagi dan setelah beberapa menit kami berhenti di rumah makan Gunung Sari Dua, Simpang Kawat.

Aku makan malam, aku pilih gulai ikan karena ini lebih sehat untuk dikosumsi dibandingkan daging. Aku bergabung dengan Pak Hendra Zuher dan Pak Editi. Total harga nya hampir 70.000 IDR untuk bertiga.

“Then I am talking with Mr Ai, saat mobil melewati kecamatan Pulau Raja. Lagu dangdut Bang Thoib menghiasi telinga kami”.
Dimana kita sekarang …..oh di Aek loba. Terlihat kebun sawiiiit.

Jam 12.00 malam kami berada di daerah Kabupaten Rantau- Prapat. Terasa kemajuan kota ini dari lampu jalan yang lebih terang benderang. Jalan raya lebih anggun. Kotanya besar ada orang jual makanan sampai malam sehingga aku jadi enggan untuk tidur. Aku merasa rugi kalau tidak melihat kehidupan kota ini di malam hari.
Aku tidak lagi melihat kebun sawit luas yang bisa menjemukan mata. Sekarang pemandangan berganti dengan pohon semacam cemara, mungkin bisa untuk industri kertas. Kami berada di kota Aek Nabara dan kotanya besar juga. Disini kami butuh toilet dan kami berhenti di SPBU Aek Nabara yang sangat, bersih dan rapi seperti standard Singapura dan Malaysia.

Ternyata tanaman sawit juga mendominasi wilayah ini. O…. ternyata wilayah ini masih masuk Sumatera Utara. Cukup maju mungin pengaruh kemajuan Propinsi Riau. Kami berada di kota Pinang saat lewat tengah malam.

Ooo sudah hari yang keempat kami pada tanggal 29 Desember 2011 ini. “Ah sudah pukul 1.00 dinihari. Ini berarti hari baru dan aku menulis untuk hari baru ini. Iya jam 2.00 dini hari kami masuk kota Dumai. Aku tidak memperhatikan nama- nama dan suasana negeri yang dilalui. Mataku betul- betul mengantuk.
Mr Ay sendiri yang membuat inisitif untuk menyusun bagasi pada bangku belakang agar ia bisa duduk dan tidur dengan nyaman, ternyata juga rebutan dengan guru guru lain- seperti Pak Yal, Pak Editi, Pak Henzu, malah juga dengan Pak kepsek (Pak Rosfairil). Sehingga bila butuh istirahat Mr Ay selalu waspada agar bangku nya tidak ditempati (dikudeta) oleh yang lain.

Ini adalah kali kedua kami tidur dalam bis dalam rute perjalanan yang panjang. Pertama dari Lubuk Sikaping menuju Danau Toba. Dan yang sekarang dari Medan menuju Pakan baru. Memang kurang nyaman tidur dalam mobil. Dan tiba tiba mobilku melintas lobang dan kami semua terlambung dari bangku….aku tak tahu kalau ada wanita yang sedang hamil….ya semoga tidak ada yang keguguran.

Aku bicara tentang tidur dan istirahat yang susah selama perjalanan malam. Aku harus malu dengan Pak Tom (sang sopir) yang tidak pernah mengeluh sebagai sang sopir. Mr Ay mengakui pak Tom yang usianya 61 tahun adalah sopir yang hebat.

Kami berhenti lagi di mushola “Al Amin”, desa Balai Makam, jalan raya Duri-Dumai, 5 km dari Kulim. aku jadi mengerti dengan daerah Kulim yang dulu pernah dibaca-baca oleh bibiku. Mushola ini kekurangan air buat wudlu hanya mengandalkan air tangki dan susah untuk urusan kakus. Aku pada mulanya separoh hati untuk ikut sholat …ya kalau-kalau ada alternatif buat sholat di tempat lain. Tampaknya ini daerah baru. Mushola ini dibangun oleh proyek wakaf perkebunan seluas 14 hektar, juga untuk pondok pesantren.

“Kalau pesantren pengelolaannya total oleh masyarakat, jadi tidak ribet seperti mendirikan SMA atau SMK”.
Buk Mulyanis memutuskan untuk cari mobil lain menuju Pakanbaru, sebagaimana kita ada rencana untuk mengunjungan ke sebuah sekolah di Duri. Buk mulyanis tidak bisa lagi berkonsentrasi karena Rindang anaknya yang kuliah di jurusan kesehatan Universitas Riau baru saja diopname di rumah sakit karena kena DBD (deman berdarah).

Kami berhenti di Duri, karena Buk Mulyanis harys mencari mobil- travel- menuju Pakan Baru. Kami berhenti di rumah keluarga Pak Rosfairil. Kami bisa rileks- minum teh dan coffe, kemudian juga bisa mandi karena badan terasa sangat kotor dan juga untuk menukar pakaian.

Aku sempat merasa kehilangan kopor karena Pak Datuk Erdi Maizul yang peralatan mandinya aku simpan dalam koperku. Ternyata aku kurang mengenal koper sendiri. Mandi ah…., aku pinjam kamar kakak Pak Rosfairil untuk ganti pakaian. Wah seger aku bisa gosok gigi dan mandi. Semua keringat dan kotoran tubuh jadi minggat.

Teman- teman guru membantu tuan rumah buat masak…ada isyarat bahwa kami akan sarapan pagi di sini. Mr Ai menemani Buk Mulyanis menuju rumah sakit tempat anaknya Rindang diopname. Mungkin ia dapat penyakit dbd- demam berdarah. Kita beuntung punya teman, Mr Ay, orangnya quick response dan quiick action- cepat response nya dan cepat tindakannya.

Ternyata setiap orang harus bersiap siap dengan pakaian rapi, pakai dasi, karena kami akan mengunjungi sebuah sekolah di kota Duri ini., jaraknya kira kkira 10 menit saja.

Kami memakai seragam sekolah dan sedang menuju sekolah yang kami maksud. Bus sekarang kekurangan 2 penumpang, yaitu buk Yyani dan Mr Ay. Pembangunan kota Duri sangat pesat. Sekarang mereka berbenah. Aku perkirakan dalam waktu singkat daerah ini sudah sebagus daerah Malaysia.
Daerah ini pernah aku lewati sebulan lalu saat pulang dari Singapura dan Malaysia melalui Malaka dan Dumai, tentu melewati Kandis dan Duri terus ke Pekanbaru. Kami mengunjungi SMA Islam Terpadu Mutiara YLPI (yayasan lembaga pendidikan Islam) Duri. Aku terasa berasa di lokasi Nilai College University, jauh dari kota dan lingkungannya hijau dan bersih. Kami disambut dalam aula atau meeting roomnya yang cukup bersih.

Tuan rumah bernuansa Islam, berakhlak islam, cerdas dan tawadhu (rendah hati). Ada satu yang terlihat bahwa guru SMA Mutiara memakai konkarde selama bertugas. SMAN 3 Batusangkar juga bisa mengadopsinya. Situs SMAN 3 Batusangkar harus juga punya situs.

“Ternyata kota Duri masuk ke Kabupaten Bengkalis. Referensi pendidikan kita adalah pulau Jawa utk level Indonesia”.
Karena berlokasi lingkunan dari Chevron- perusahaan minyak- ada bantuan Chevron, namun sekolah ini juga punya bisnis sapi untuk kebutuhan Bengkalis. Kunjungan antar sekolah dan saling silaturrahmi bermanfaat buat menambah wawasan dan pengetahuan. Untuk itu setiap orang harus bersilaturrahmi yang positif.
“Barangsiapa yang ingin banyak rizki dan panjang umurnya maka lakukanlah silaturahmi”.

Aku bisa bertemu dengan Ppak Sardinal yang bekerja sebagai tenaga ahli di Chevron Duri ini. Ia menelponku dan kami berfoto sebagai bukti pernah jumpa. Namun temanku Ben Syaiful bertugas di Chevron Minas, ya tidak bisa jumpa. Aku juga bertukar fikiran dengan guru bhs Inggris di sekolah ini, kami berbagi kontak number. Aku kelamaan ngobrol dan aku ditelpon karena teman teman sudah dalam mobil siap menuju Pakanbaru.

Kami meninggalkan Kab. Bengkalis. Daerahnya rawa rawa. Sepajang jalan terbentang pipa minyak bertekanan tinggi. Tentu saja orang dilarang untuk mendirikan bangunan di sana. Kebun kelapa sawit juga terbentang luas. Agaknya aku melihat adanya gerakan kristenisasi di daerah Kandis, sepanjang perkebunan sawit, aku melihat banyak berdiri gereja. Di sela sela wilayah tampak pengagasnya Partai Damai Sejahtera. Kandis masuk kabupaten Bengkalis ya.

Target Ppartai Damai Sjahtera adalah membangun gereja sebanyak mungkin. Meski jamaatnya sepi. Wah ini tantangan bagi orang Melayu Rau di daerah Kandis untuk menjaga keislaman anak anak melayu.

Sejak dari Sumatra bagian timur juga Riau buminya penuh dengan tanaman sawit. Kalau dahulu Sumatra bernama Pulau Andalas, apa sekarang bisa berrnama Pulau Sawit ? Kami berhenti buat sholat zuhur dan jamak untuk sholat ashar di mesjid Nurul Islam, Kelurahan Telaga Sam sam, kecamatan Kandis. Air sumurnya agak keputihan pengaruh tanah liat.

Tadi kami berhenti di rumah makan di Minas buat makan siang, habis itu terus dan kami memasuki kota Rumbai.. Juga daerah perkebunan. Guru guru kantuknya udah hilang dan perutnya kenyang, maka saling ngobrol tentang hal hal ringan. Kami melewati Sungai Siak. Cukup luas. Dalam musim hujan sedikitt meluap. Kami masuk kota Pekanbaru dan kami akan meenginap di Hotel Nilam Sari, milik SMKN 3 Pekanbaru, lokasinya di jalan Sutomo.

Sebelum pergi ke hotel kami melihat anak Bu Yani, aku lupa nama rumah sakitnya. Namun kami tak boleh semuanya melihat, naik lift, ke lantai atas, kecuali hanya bertiga- Pak Rosfairil, Pak Adrion ( komite) dan Pak Datuk Erdi Mmaizul. Namun setelah mereka di atas. Buk Yani dan Rindang turun….mau pindah rumah sakit ke Awal Bros.

Sore ini…kami jala ke mall SKA. Shopping lagi. Kami jalan- jalan ke mall SKA. Aku memang tidak ada niat buat membeli jadi tidak tertarik buat menyentuh nya. Ketika masuk ke toko kacamata Pak Datuk Periksa mata gratis, kemudian melihat dan menawar berbagai kacamata tanpa membeli dan aku merasa ashamed dan duluan ke luar ruangan. Dan aku cari makanan.

Aku memisahkan diri, karena dua teman masih ingin pergi shopping. Aku makan sate dan beli air bottle. Aku sholat di mesjid Nnamira, mesjidnya bagus dan bersih sudah sesuai dengan standard bersihnya mesjid di Singapura. Aku berjemaah sholat isya dan habis sholat isya aku sholat jamak magrib dan isya. Saat berakhir sholat aku lihat Mr Ai juga sholat dn akhirnya aku temani Mr ai ke mall SKA buat beli sandal bagus.

30 Desember 2011 . Bangun dan sholat subuh. Aku keluar, teman teman yang lain ada yang tidur. Aku jalan jalan berkeliling sambil menandai jalan agar aku tidak salah jalan dan sesat. Oh ada yang jual makanan jauh di pojok jalan perumahan. Aku beli ketoprak, nama makanan- ada lontongnya, tahu goreng setengah mateng, ada toge, kuah kacang pake cabe rawit dan gula aren. Harganya cuma . 8.000 IDR. Pedagangnya dulu pernah kena PHK dari kerjanya di ekspedisi perdagangan pelayaran Jakarta. Ia dapat pesangon, trauma hidup di Jakarta ya hijrah ke Pakan baru. Ia membeli tempat kecil dan ia membuka warung.
“Hidup musti tabah dan ceria selalu . Ya ada datang pelanggan dan ia bisa menyambung hidup. Aku dapat pelajaran darinya bahwa hidup harus berjuang, tidak memelas kasih berlebihan.

Setelah kenyang ya aku kembali ke hotel, berkemas karena hari ini adalah hari terakhir. Kami semua off menuju Batusangkar lagi. Jam 9.00 pagi kami semua cek out dari Hotel Nilam Sari- hotel murah namun cukup nyaman.

Wah ternyata kami tidak langsung pulang, mobil diparkir di kawasan pelabuhan Sungai Siak Pakan Baru. Teman teman pergi shopping ke pertokoaan wisata. Aku juga masuk toko untuk lihat lihat dan aku tidak tertarik dan aku pergi ke luar untuk menyelesaikan ketikan ku tentang pengalaman tour ini.
Oh ternyata pelabuhan yang di Pakan Baru khusus untuk barang antar pulau di Indonesia. Aku makan snack ringan di bawah pohon dekat pintu gerbang pelabuhan. Tampak gedung dan lokasi pelabuhan yang tidak begitu terawat dengan baik. Ini fenomena negeriku selalu mudah semraut.
Agak jauh dalam kapal aku dengar suara bising, suara last danb suara palu, mungkin ada perbaikan pada kapal. Di sana sini besi besi bertumpukan. Aku bergabung dengan Pak Rosfairil dan Pak ketua komite (adrion). Rencananya kami mau sholat Jumat, tetapi belum waktunya sehingga kami mampir makan siang dulu.

“Alhamdulillah makan siang yang enak”.
Tentu saja setelah ini kami harus sholat jumat. Ya mesjidnya lagi direnovasi dan kami ikut jumatan yang khusuk. Beberapa saat kemudian semua anggota kami berkumpul dalam mobil akhirnya “au revoir et a bientot” Pekanbaru.

Keluar dari Ppanam, berarti goodbye Pakan Baru dan kami memasuki Kabupaten Kampar. Daerah ini kaya dengan laang nenas. Sehingga juga ada industry kerupuk nenas. Ada sugai lebar dan namanya Sungai Danau Bingkuang.

Naluri penduduk untuk berbisnis kuliner cukup bagus. Ada bisnis lepat bugis, lepat pulut hitam, lepat pulut putih, roti jala, kue talam yang mereka kemas datam bungkusan yang bagus untuk dibawa sebagai buah tangan menuju Sumatera Barat.

“Namun istriku kurang suka dengan beras rendang yang aku beli di Kampar, alasannya beras rendang yang dibuat di Payakumbuh jauh lebih enak”
Kami berada di kawasan kota Bangkinang saat ashar. Suasana kota Bangkinang seperti berada di daerah Kabupaten 50 Kota. Oh aku melihat ada mesjid sangat megah dan luas dalam kota ini. Bangkinang adalah ibu kota Kabupaten Kampar. Kami sholat ashar di masjid Attaqwa di Salo- Bangkinang. Masjid ini miliki infantri tni. Cuaca panas begitu menyengat dan setiap orang ingin mencari keteduhan.

Dimana ada keramaian disana ada aktivitas dagang, termasuk dekat masjid Attaqwa ini. Namun bagaimana dengan sampah ? Yang membuangnya banyak dan yang mengumpulkannya tak ada. Aku menyimpan sampah permen ke dalam tasku dulu. Anak-anak ku tidak boleh buang sampah seenaknya. Mereka tidak boleh meniru orang kebanyakan yang cuma pintar buang sampah.

Mereka itu adalah “dirty maker” atau tukang buat sesuatu jadi kotor.
Daerah Rantau Berangin mulai terasa suasana daerah yang berbukit dan di sini juga mengalir Sungai Rantau Berangin atau mungkin namanya Sungai Koto Panjang yang di sana ada waduk gede.

Sebelum ada waduk koto panjang di sini ada perkampungan, atas nama pembangunan negara, Rezim Orde Baru membuat waduk buat PLTA Koto Panjang, warga yang tidak sudi hijrah ya tenggelam dalam genangan waduk ini. Kini listrik Propinsi Riau berasal dari PLTA Koto Panjang yang berlokasi di Kabupaten Kampar ini.

Pasti Pak Tom, sopir kami merasa capek, maka mobil berhenti di rumah makan Kelok Indah. . Aku juga turun dan melihat ikan lele jumbo dalam kolam kecil persis di depan resto ini. Terlihat bagiku bahwa naluri bisnis kuliner nasi orang Minang/ Padang memang hebat di dunia.

“Rugi ya bila ada pemuda Padang yang jadi pengangguran…..buat saja rumah makan. Sarjana orang Padang yang mengganggur harus malu dong …sama pemilik rumah makan”

Wah…. the last big party…semua anggota rombongan masuk rumah makan pake goreng ayam lado mudo, jengkol batokok. Beda dengan makan di Pulau Samosir…dimana hampir semuanya tidak berselera, khawatir dengan makanan yang tidak halal. Di rumah makan Kelok Indah , di perbatasan Sumbar-Riau, semua makanan jadi ludes. Wah masih belum maghrib….. maka kami melanjutkan perjalahan go home.

Saat rembang sore kami melewati daerah Pangkalan Koto Baru. Rona matahari bakal lenyap habis magrib. Daerah Pangkalan merupakan daerah indah pertama setelah ke luar dari Propinsi Riau. Hamparan sawah nan hijau menyejukan mata. Kami berhenti di pom bensin Pangkalan dan sekaligus melakukan sholat magrib. Gelap gulita melewati jalan Pangkalan padahal aku ingin melihat pemandangan dan Kelok Sembilan dengan jembatan menakjubkan.
Kami melewati jembatan kelok sambilan, amazing …dua jembatan toll begitu tinggi.

Setelah itu kami melewati lubuk bangku dan harau. Payakumbuh menyusul. Wah kami rasa dalam mimpi saja. Aku segera menjepit kulitku…..outch sakit. Ternyata aku tidak menghayal dan bukan mimpi namun ini adalah sebuah unforgetable experience. Welcome back in Batusangkar. Kota sejuk dan berbudaya yang telah menyatu dengan kalbuku.


Responses

  1. manta cerita nya uncle…
    oleh2 mana nih….
    heheheeeee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: