Khutbah Jum’at

Responses

  1. artikel-artikel yg diangkat sungguh sangat bagus dan perlu dibaca.
    terima kasih.
    alhamdulillah, saat buka ini saya pas da di Banda Soekarno Hatta. Bagus, bagus, bagus.

  2. Alhamdulillah, hari Kamis 22 Maret saat makan siang, saya sempatkan mampir ke stand net di sebuah lounge. Saya pasti bukae-news
    letter Disdik.Sambilmenunggu kepulangan saya dari Umrah sejak14 Maret laun,saya baca-baca sajian mediakita ini.
    Sekalilagib agus dan perlu dibaca.

  3. bagus dan enak dibaca.

  4. As ww. Pak mohon dimuat masalah bimbingan ibadah haji terima kasih

  5. Yth. arlissamdali….
    Insya Allah saya usahakan.
    Terima kasih.

  6. Sebuah penjelasan untuk Bapak Jalius dan pembaca yang saya hormati, saya cintai, dan saya banggakan.
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Syukur Alhamdulillah, saya panjatkan kehdahirat Allah Saw, Tuhan Yang Menciptakan jagat raya dengan susunan tata surya yang agung dan indah. Alhamdulillah, tek khutbah Jum’ah saya -yang berjudul “Pentingnya Moral” Edisi Jum’at, 24 Februari 2012 -mendapat perhatian (agak) serius dari Yth. Pak Jalius.
    Mohon maaf, saya baru sempat memberi penjelasan sekarang. Belakangan ini, banyak kegiatan kampus, organisasi (MUI, DMI, LPTQ, LDNU, HBMI) –Prov Jatim, dakwah, khutbah, bimbingan umrah dengan jamaah, bhakti social dalam forum Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI) Jawa Timur, menulis, kegiatan redaksi sejumlah mass media, dls. Karena itu, saya benar-benar mohon maaf yang sebesar-besarnya.
    Ini yang perlu saya jelaskan:
    1. Dalam forum khutbah Jum’ah, utamanya di elemen masyarakat ‘awam, masyarakat umum, baik di pedesaan maupun perkotaan, dibutuhkan penyampaikan khutbah yang mudah, simple dan praktis. Tidak berbelit-belit. Sehingga, kata-kata “akhlaq atau moral” itu -tidak membutuhkan penjelasan panjang. Maksud akhlaq atau moral ialah: “ber-akhlaq atau ber-moral”. Artinya, “mempunyai akhlaq atau mempunyai moral”. Pengertiannya, mempunyai akhlaq yang baik atau mempunyai moral yang baik. Mafhum kaamilah-nya seperti itu.
    Apabila ditanyakan kepada (sebagian besar) dari jama’ah jum’ah yang (baru) turun dari masjid, apa yang dimaksud khotib tadi. Insya Allah mereka menjawab, akhlaq terpuji atau moral yang baik.
    Orang (kebanyakan) bilang: “ooo…gak duwe akhlak” (bhs Jawa), (ooo…gak punya akhlaq). Maksudnya, orang itu tidak “mempunyai akhlaq terpuji”. Begitu pula orang bilang: “ooo…gak duwe moral” (bhs Jawa), (ooo…gak punya moral). Maksudnya, orang itu “tidak bermoral”. Maknanya, orang itu tidak “mempunyai moral yang baik”.
    Sangat berbeda apabila kita berbicara di forum ilmiyah, diskusi, seminar di kampus atau lainnya. Mesti harus dijelaskan akhlaq “mahmudah” atau moral yang “baik”, agar mereka tidak bingung atau salah menginterpretasikan (satu kata itu). Sebab, mereka pada umumnya pakar. Lebih suka, apa-apa “menjadi”, atau bahkan dibuat sukar (oleh dirinya sendiri)? Maaf, ini kelakar saja, Pak Jalius.
    Padahal kalau kita perhatikan nilai rahmatan lil alamin dalam agama Islam, sebagiannya adalah prinsip “yassiruu walaa tu’assiruu”, permudahlah, jangan dipersulit (dipersukar). Kalau masyarakat (local) -sudah menjadi faham dengan kata-kata itu (saja), akhlaq atau moral -sudah cukup. Tidak perlu dibuat panjang dengan ditambah “mahmudah atau baik”. Kecuali benar-benar membutuhkan penjelasan secara detail. Asal tidak lalu “suka” gampang-kan segala-galanya. Yang proporsional-lah, kata para pakar. Begitu kan Pak Jalius?
    2. Bagaimana tidak bermakna “pentingya moral” dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan budi pekerti. Justeru Allah Swt menurunkan seorang rasul di akhir zaman, dengan diberi tugas menyempurnakan akhlaq ini –sebagai bukti, betapa pentingnya moral itu bagi kehidupan umat manusia. Dengan bekal akhlaq yang mulia ini –manusia diharapkan dapat mengarungi kehidupannya -dalam suasana yang lebih manusiawi dan bermatabat. Karena pentingnya moral, maka Nabi Saw diutus menebar rahmat bagi seluruh alam.

    3. Dengan akhlaq (Mahmudah) maka kehidupan manusia akan menjadi makmur. Masyarakat awam tidak terbiasa (suka) bertele-tele mendengarkan khutbah di atas mimbar. Apalagi sebagaian besar dari jama’ah itu “ngantuk/tertidur” saking nikmatnya (suasana Jum’atan)?. Maka, prolog menuju (kehidupan) yang makmur itu, mereka tidak butuh uraian detail secara ilmiyah. Justeru jama’ah lebih suka khutbah yang simple, jelas, dan praktis. Tidak berbelit-belit, dan bertele-tele.

    Seperti rangkaian kata-kata pepatah berikut, “hemat pangkal kaya”. Itu kan tidak perlu diurai, prolog menjadi kaya itu kaya apa. Ada lagi, “Rajin pangkal pandai”. Itupun juga tidak butuh diurai bagaimana prolog menjadi pandai. Mereka sudah sangat-sangat mafhum dengan kata-kata seperti itu. Maksudnya, siapa yang mau hemat, (insya Allah) akan bisa menjadi kaya. Begitu pula, siapa yang mau rajin belajar, dia (insya Allah) akan bisa pandai. Jama’ah sudah bisa menangkap kata-kata seperti itu.

    4. Betul, tidak cocok. Saya khilaf dalam menombol nomor surat di laptop. Yang benar, rujukan ayat itu ialah Al Qur’an Surat Ibrahim [14] ayat 24-25. Bukan ayat 33-35).

    Ini teknya:
                      •        ••   
    “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim [14]: 24-25)
    [786] termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti Laa ilaa ha illallaah.
    Saya mohon maaf, telah terjadi kesalahan saat menombol nomor ayat.
    Di dalam Tafsir Al Maragi Juz: 13, 14, dan 15 disebutkan, dengan perumpamaan (kalimat yang baik seperti pohon yang baik) itu, Allah mengumpamakan perkara maknawi dengan perkara indrawi, agar kesannya lebih menyentuh jiwa dan lebih sempurna bagi orang yang berakal.
    Bagi orang-orang Arab, kata perumpamaan adalah gaya pengungkapan perasaan yang biasa digunakan untuk memperjelas makna-makna yang dikehendaki terpatri kokoh di dalam hati para pendengar.
    5. Kita kembalikan kepada maksud kata “akhlaq dan moral” seperti penjelasan di atas tadi. Bila mempunyai akhlaq (yang baik) atau moral (yang baik), maka tindakan kejahatan tidak akan terjadi.
    6. Dari akhlaq (mahmudah) atau moral (yang baik), seseorang akan terdorong untuk rajin menuntut ilmu sampai ke negeri China (misal). Artinya menuntut ilmu setinggi-tingginya, dan di manapun tempat ilmu itu berada. Sebab, dengan ilmu yang tinggi, dan lebih dahulu didukung dengan iman (yang kuat), otomatis seseorang akan memilih amal yang shaleh dari pada amal yang salah. Dari kondisi seperti itu, kehidupan seseorang bisa menjadi luhur dan terhormat, baik di dunia maupun di akhirat.
    Berbeda jauh dengan orang yang tak ‘ber’moral (tidak mempunyai moral yang baik), dia membenci setiap upaya peningkatan ilmu pengetahuan (positif). Kemudian lalu -terdorong untuk berbuat maksiat atau negative yang bisa berakibat mendatangkan kesengsaraan dan menyandang martabat yang rendah.
    Prinsip, saya setuju dengan pemikiran Pak Jalius yang terakhir ini. Apabila menulis, hendaknya mengangkat dalil, lalu diurai. Metode ini, menafsirkan dalil, baik ayat al Qur’an maupun Hadits. Seperti halnya para Mufassir (para ahli Tafsir, seperti Al Maraghi, Ibnu Katsir, Prof. Dr. Qurash Shihab dengan Tafsir Al Manar-nya, dls).
    Demikian pula para ahli hadits, yang mengurai tentang asbabul wurud, sanat, matan, perawi, keshahihan, dan seterusnya).
    Kalau di dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ada cabang Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) sampai tingkat Nasional. Peserta ada kewajiban menyerahkan 4 (empat) tema yang telah ditentukan oleh panitia MTQ Nasional sebanyak 10 (sepuluh) tema. Kemudian dari empat yang diserahkan itu diundi untuk mendaptkan 1 (satu) tema. Misalnya, “Bahaya Penyalahgunaan Narkoba”. Atau, “Memberantas Pornografi dan Pornoaksi”.
    Pensyarah dibantu oleh Qori’/ah membacakan ayat sebagai rujukan yang sesuai tema dengan lagu qira’at, bacaan indah. Lalu disari tilawahkan oleh petugas Sari Tilawah. Kemudian Penysyarah mengurai/menjelaskan ayat tsb sesuai dengan pendapat para Mufassir, mengungkap Asbab an Nuzul, mengungkap kandungan ayat itu -baik yang Muhkamat maupun yang Mutasyabihat. Atau bahkan, membandingkan dan mengkonfrontir dengan ayat-ayat lainnya untuk memperkuat alasan/pendapatnya, dst.
    Mohon maaf Pak Jalius, kebetulan saya diberi amanat oleh Gubernur Jawa Timur untuk membina MSQ Tingkat Provinsi Jatim, dipersiapkan maju ke Tingkat Nasional, sejak tahun 2000 hingga sekarang.
    Pertanyaannya, kalau setiap menulis (harus) dengan model seperti yang diharap Pak Jalius, ada berapa gelintir penulis Indonesia yang mampu melakukan penafsiran ayat Al Qur’an dan Hadits seseuai dengan sejarah asbab al nuzul, kandungan ayat, baik yang muhkamat maupun mutasyabihat, asbab al wurud, sanat, matan, keshahihan hadit, perawi, ataupun hal-hal lain yang banyak berhubungan dengan Hadits.
    Kalau (hanya) harus demikian saja, alangkah sedikitnya ilmu yang terkandung di dalam kitab Suci Al Qur’an sebagai hudan lin nas, wabayyinatin minal huda wal furqan ini -dibaca umat Islam se Indonesia, karena saking sempitnya Ulum Al Qur’an atau Mustahalah Hadits bagi (calon) penulis yang akan mengurai Kitab Allah atau Sunnah Rasul –yang amat dalam dan luas –tak terbatas itu. Tenggelamlah wahyu Ilahi dan Sunnah Nabi Saw dari bumi Indonesia.
    Hemat saya, bagi para ahli Ulum Al Qur’an dan Musthalah Al Hadits, silakan menulis dengan gaya fikiran Pak Jalius. Mengambil ayat, lalu diurai, dijelaskan asbab al nuzul, ditafsiri sesuai Ulum Al Qur’an. Begitu pula mengambil sebuah hadits, lalu dijelaskan Asbab al Wurud, kandungannya, sanatnya, matannya, perawinya, keshahihannya, dst.
    Bagi yang tidak ada kemampuan atau (maaf) sempit ilmu alatnya; maka, boleh saja menuangkan buah fikirnya untuk kemaslahatan ummat, kemudian didukung oleh dalil yang sesuai dengan buah fikirannya. Namun, tidak kamudian lalu terbebas dari kuwajiban menuntut ilmu tentang “ilmu alat” Al Qur’an dan Al Hadits, demi perbaikan dan kesempurnaan tulisan di masa depan. Semoga bermanfaat.
    Begitu Pak Jalius.
    Saya benar-benar merasa senang dan berterima kasih atas kritik (membangun) ini. Saya tunggu kritikan selanjutnya, sehingga saya bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi.
    Sekian terima kasih.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  7. TANGGAPAN TERHADAP KOMENTAR BAPAK JALIUS HR YANG SAYA HORMATI

    Assalamu’alaikum Wr. Wb

    Puji syukur Alhamdulillah -kami panjatkan kehadirat Allah Swt, Tuhan yang menitahkan manusia di muka bumi menjadi khalifah –agar mewakili Tuhan membuat kebaikan di muka bumi “inni ja’ilun fil ardhi khalifah” (QS. Al Baqarah [2]: 30).
    Tuhan, yang telah menegaskan bahwa orang mukmin itu bersaudara “innama al mukminuna ikhwatun” (QS. Al Hujurat [49]: 10).
    Tuhan, yang memberi predikat zhalim kepada orang yang suka meremehkan mukmin lainnya. Kalau tidak (segera) bertaubat –maka ia tergolong orang yang zhalim “la yaskhar qaumun min qaumin ….wa man lam yatub fa ulaika hum al zhalimun” (QS. Al Hujurat [49]: 11).
    Tuhan, yang melarang mukmin berburuk sangka, (berniat dengan sengaja) mencari-cari keburukan orang, dan menggunjing orang lain “ijtanibu min al zhanni… ”(QS. Al Hujuraat [49]: 12)
    Tuhan, yang mengumumkan –orang yang paling baik diantara manusia ialah yang paling bertaqwa “inna akramakum indallahi atqakum” (QS. Al Hujurat [49]: 13). Orang yang bertaqwa itu ialah: dermawan dikala lapang maupun sempit, mengendalikan emosi, memaafkan orang ialn, bila berbuat keji dan menzhalimi diri sendiri segera ingat Allah –lalu beristighfar kepada Allah, serta tidak mengulang perbuatan buruknya, dan mereka menyadari hal itu. (QS. Ali Imran [3]: 134-135)
    Ini saya kutipkan beberap ayat dan hadits yang relevan dengan penjelasan saya atas komentar Pak Jalius sbb:

           •                                               

                                •   •      ••           •      •    
    10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
    11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

    [1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
    [1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

    12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
    13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat [49]: 10-13)

    Tuhan, yang tidak menyukai orang menyombongkan diri, congkak, angkuh. Firman-Nya:“Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong…” (QS. Al Israa’ [17]: 37)

     •   •  •        
    37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Israa’ [17]: 37)

    Tuhan, yang tidak memberi ilmu kepada manusia, kecuali hanya sedikit “wa ma utitum minal ilmi illa qalilaa…”(QS. Al Iraa’ [17]: 85)

    Tuhan, yang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga kecuali dengan rahmat-Nya (bukan karena amalnya) “lan yadkhula al jannah ahadun illa birahmatillah.” (HR. Baihaqi, dari Abi Sa’id al Khudri).

    Sabda Nabi Muhammad Saw:
    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْتَ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ وَقَالَ بِيَدِهِ فَوْقَ رَأْسِهِ (رواه البيهقي)
    “Dari Abi Sa’id al Khudri, dia berkata. Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seseorang masuk surga, kecuali dengan rahmat Allah. Kami bertanya, ya Rasulallah, (apakah) engkau juga tidak ? Rasulullah menjawab, aku juga tidak. Kecuali Allah memberi belaskasihan kepadaku dengan rahmat-Nya. Rasulullah saw sambil mengangkat tangannya sampai di atas kepala (karena, saking pentingnya masalah ini)”. (HR. Baihaqi)

    Ada Hadits Nabi Saw yang menerangkan perbuatan yang paling baik sbb:

    أبي ذرأنه سأل نبي الله صلى الله عليه وسلم أي العمل خير قال إيمان بالله وجهاد في سبيل الله (السنن الكبريى للنسائ, الجزء 3, الصحفة 173)

    “Dari Abi Dzar ra, bahwasanya dia bertanya kepada Nabi Saw, perbuatan apa yang paling baik ? Nabi saw bersabda: beriman kepada Allah, dan berjihad di jalan Allah.” (Al Sunan al Kabir li al Nasai, Al Juz 3, al Shahifah 173)

    Beriman itu ialah, mempercayai existensi Allah, tidak mencela dan menuduh fasiq/kafir/jelek orang lain, tidak merasa sok paling benar/pintar. Sedang berjihad itu, bukan (hanya) berjuang untuk kemenangan nafsunya/pendapatnya sendiri.

    Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya sampai hari kiamat.

    Jama’ah Jum’ah pada umumnya sudah tidak butuh definisi “kebenaran” yang dipermasalahkan Pak Jalius ini. Mengapa? Karena mereka sudah sangat-sangat memahami maksudnya. Sehingga, tidak membutuhkan definisi sebagaimana yang dikehendaki Pak Jalius –seperti yang biasa dikemukakan dalam forum ilmiyah, semisal seminar, ujian skripsi, dls. Naskah ini adalah bahan untuk khutbah Jum’ah. Waktunya, sangat terbatas, antara 15 – 20 menit.
    Mohon maaf, Pak Jalius ini masuk golongan mana ? Ilmuan tidak, ulama juga tidak? Ilmuan itu, sebutan bagi para ahli ilmu pengetahuan, dan Ulama, adalah sebutan para ilmuan agama dari kelompok muslim. Sayang sekali, Pak Jalius ini kok tidak jelas posisinya.
    Kalau jelas (posisinya) kan lebih enak diajak bicara dengan menggunakan akal (sehat), fikiran (yang jernih), dan hati (yang teduh). Maaf, komentarnya tidak menampakkan jiwa muslim yang kaffah. Terasa, fikiran negatifnya lebih mengedepan. Lebih tajamnya, beliau merasa sok paling benar, paling pintar, dan paling menguasai segala ilmu, (terasa) melebihi Tuhan. Contohnya, beliiau berkata, “konsep kebenaran yang sering dibicarakan oleh kebanyakan para ilmuan atau ulama belum merupakan kebenaran yang sesungguhnya (hakiki).”
    Pertanyaannya, masuk golongan mana Pak Jalius ini? Konsep kebenaran yang disampaikan para ilmuan dan ulama dikata salah. Lha konsep kebenaran dari siapa (lho) yang benar itu ? Tentu tidak ada yang bisa menjawab (berkementar) kecuali Pak Jalius. Wong beliau yang bisa menyalahkan para ilmuan dan ulama?
    (Mohon maaf Pak Jalius yang budiman. Ini naskah Khutbah Jum’ah. Bukan artikel biasa. Bukan bahan seminar atau diskusi, atau lainnya. Mestinya Pak Jalius harus bisa mmbedakan antara bentuk naskah khutbah Jum’ah dengan tulisan lain. Tentu Pak Jalius bisa membedakan berbagai artikel saya (bukan naskah Khutbah Jum’ah atau Id) yang telah diangkat dalam media yang sama ini. Misalnya, yang berjudul: Jujur, Taubat, Sabar, Syukur. Karena tulisan ini bentuknya artikel, maka saya uraikan dengan gamblang dan jelas definisi, sebab, aplikasi, dampak, dls. Mengapa diurai seperti itu? Karena, tidak terikat oleh waktu. Pembaca bisa memilih kesempatan untuk membaca dan merenungkan. Dan, tidak diikat oleh syar’i. Jadi, bisa leluasa dan luas untuk mengurai sehingga menjadi lebih jelas.
    Insya Allah saya tahu, Pak Jalius juga membaca artikel-artikel saya yang diterbitkan oleh E-newsletterdisidik (Sumbar) ini. Dan, Pak Jalius tidak berkomentar terhadap model artikel saya itu. Dulu ada komentar Pak Jalius terhadap artikel saya yang berjudul “Haji Itu Cita-cita”. Dalam artikel itu saya sebutkan diantaranya: “haji itu ibadah yang menggembirakan”. Komentar Pak Jalius, ibadah haji kok menggembirakan? Ibadah haji itu menakutkan. Begitu komentar Pak Jalius. Lalu, saya jelaskan. Ibadah haji itu menggembirakan, karena dosa-dosanya dapat doampuni. Dan, akan dimasukkan surga oleh Allah Swt. Sebagaimana Sabda Rasulullah Saw: “Al Hajju al Mabrur laisa lahu jazaa’ illa al jannah”. Haji yang mabrur itu, tidak ada balasannya kecuali surga.
    Lalu, setelah itu Pak Jalius berkomentar lagi terhadap tanggapan saya itu lebih banyak lagi. Kemudian saya tanggapi lagi. Beliau tidak terima, lalu menanggapi lagi. Kemudian saya tanggapi lagi secukupnya. Akhirnya, Pak Jalius berkata : “sudah cukup jangan ditanggapi lagi. Sayapun lalu berhenti.
    Akhir-akhir ini sering mengomentari beberapi naskah khutbah jum’ah yang sempat saya kirim ke media tersebut di atas. Sepertinya, Pak Jalius menghendaki model naskah khutbah Jum’ah itu supaya dibuat tidak beda modelnya dengan artikel atau tulisan bahan seminar, diskusi, dan atau lainnya. Ya mesti harus dibedakan (dong).
    Sepintas Pak Jalius –tidak bisa membedakan antara keduanya. Atau maaf, memang Pak Jalius tidak pernah khutbah. Sebab, seseorang yang telah biasa menulis dan melaksanakan khutbah Jum’ah, bila membaca model naskah Khutbah Jum’ah saya tsb di atas -sudah tidak asing lagi. Sudah bisa menerima, dan menggunakan model khutbahnya seperti itu.Tidak seperti Pak Jalius ini. Bagi Pak Jalius, harus menerangkan definisi segala macam yang dibicarakan –satu demi satu. Misalnya, beliau berkata: Sebaiknya dijelaskan pula satu persatu apa yang dikatakan :1. kebenaran, 2. kebatilan. 3. apa yang dikatakan betul dan salah. 4 kemudian apa yang disebut baik atau buruk. Sehingga jelas sasaran dan batas-batasnya. agar kita terhindar dari bercampur aduk penggunaan kata (konsep) yang berlainan maksudnya. Begitu komentar Pak Jalius.
    Apakah tidak lalu habis waktunya. Karena habis untuk menerangkan difinisi semuanya itu (yang pada dasarnya, jamaah sudah mengerti maksudnya). Jelas, bisa menghabiskan waktu yang idealnya 15 – 20 menit. Bahkan di Masjid PLN Trengguli Surabaya Jawa Timur, waktu khutbah dan shalat Jum’ah dibatasi (oleh Takmir Masjid) hanya 20 menit. Itu sudah dengan shalat jum’ahnya.
    Coba bayangkan, apakah tidak buyar jama’ah jum’ah kalau khutbah jum’ah memakai model Pak Jalius ini. Bisa jadi, jama’ah berdiri mengadakan shalat jum’ah lebih dahulu (sendiri) sebelum khotib mengakhiri khutbahnya. Sebab, khutbahnya kayak seminar, orasi ilmiyah, dan terlalu panjang, serta bertele-tele (banget). Khotib seperti model Pak Jalius ini, sudah jelas, tidak dipakai lagi oleh Takmir Masjid (manapun). Karena, tidak menutup kemungkinan -ada surat cinta dari jama’ah, “Khotibnya, bertele-tele kalau berkhutbah. Sulit ditangkap. Terlalu panjang. Menghabiskan waktu. Rekomnya, jangan dipakai (lagi)”. Tammat sudah khotib model Pak Jalius ini di muka bumi. Yang tepat, ya bicara di kampus atau lainnya.
    Mungkin tidak ada takmir masjid yang mau memakai Pak Jalius untuk berkhutbah Jum’ah, karena terlalu dibuat ilmiah, ruwet, sulit ditangkap, bertele-tele, melelahkan, menghabiskan waktu, kayak seminar. Bahkan, terkesan oleh jama’ah –sok pintar (sendiri), dan menggurui.
    Menurut hemat saya, penjelasan lebih luas, perlu diadakan dialog antara khotib dan jama’ah setelah shalat jum’ah usai. Model ini telah dilaksanakan oleh Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Khutbahnya, tidak bertele-tele dan ruwet. Sehingga waktunya tetap ideal, antara 15 – 20 menit. Setelah shalat jum’ah usai, dibuka dialog untuk memperjelas materi khutbah yang disampaikan oleh khotib tadi. Model ini telah dilaksanakan di Masjid Nasional itu sampai sekarang. Kebetulan saya juga diberi waktu untuk ikut mensyiarkan masjid kebanggaan masyarakat Jawa Timur ini.
    Sekali lagi Pak Jalius, jama’ah (Jum’ah) sudah tidak membutuhkan penjelasan tentang apa definisi hakekat kebenaran itu. Mereka sudah mengetahui dengan jelas apa yang dimaksud khotib dalam berkhutbah.
    Justeru yang sangat dibutuhkan oleh jama’ah (Jum’ah) adalah apa tanda-tanda kebenaran itu. Bukan apa hakekat kebenaran itu. Sebab, dari tanda-tanda atau indicator itulah, jama’ah (Jum’ah) diharapkan berusaha untuk menjadikan dirinya –kaum yang selalu dalam kebenaran, baik pola fikir, perilaku, tindakan, dan kebijakannya. Sehingga, diharapkan, mereka menjadi golongan “al-Shiddiq”, kaum yang berpredikat “dalam kebenar”. Di sini sangat diperlukan bagi seorang khotib atau da’i –Ilmu Sosiologi Dakwah. Sehingga dapat menangkap, sesungguhnya apa yang dibtuhkan audient atau sasaran dakwah itu.
    Mengapa “kebenaran” harus dibedakan ? Menurut hemat kami, selama kebenaran yang diambil atau diterapkan oleh umat manusia (sebagai khalifah Allah fi al-ardhi/wakil Allah di muka bumi) itu merujuk kepada ketentuan-ketentuan Allah swt sebagai “hudan”, sudah tidak ada masalah. Atau sudah tidak perlu (lagi) dipermasalahkan seperti fikiran Pak Jalius ini (harus dibedakan kebenaran dari Allah dan manusia). Menurut kami, selama para khalifah Allah sudah berpegang kebenaran dari Rabb-nya, maka tidak perlu menjadi kaum yang “mumtarin”, ragu (QS. Al Baqarah [2]: 147)

    Sekali lagi, mohon maaf Pak Jalius, ini bahan untuk khutbah. Waktu sangat terbatas. Bukan seperti di forum seminar, diskusi, penggalangan pendukung pilkada, dls. Kalau harus menerangkan satu demi satu definisi: 1. Kebenaran, 2. Keadilan, 3. Apa yang dikatakan betul dan salah, 4. Kemudian apa yang disebut baik atau buruk. Sehingga jelas sasaran dan batas-batasnya. Agar terhindar dari bercampur aduk penggunaan kata (konsep) yang berlainan maksudnya. Belum lagi, bicara tentang aplikasinya, belum juga dampaknya, belum lagi solusinya, dan belum kesimpulan, serta penutupannya. Maka jama’ah jum’ah pulang lebih dahulu sebelum shalat dimulai. Atau mengadakan shalat jum’ah sendiri sebelum khotib mengakhiri khutbahnya. Apa lalu berhasil khutbahnya, kalau setiap khutbah harus seperti itu?
    Bagaimana sangat mempersempit ruang lingkup kebenaran yang datang dari Allah? Sebenarnya, hati manusia -siapapun, dalam setiap merasakan dan menimbang nilai kebenaranan –adalah (bisa) tidak berbeda. Bahkan, Abu Lahab-pun, yang Abu Jahal-nya manusia sedunia itu, hatinya mengakui kebenaran ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ajaran Nabi Muhammad Saw itu menurut dia –benar. Datang dari langit. Yang tidak ada pada diri Abu Jahal ialah, aplikasinya. Karena ditekan oleh gengsi, harga diri, dan takut banget kehilangan nama di kalangan masyarakat Makkah yang sebelumnya telah mengagungkan dia –sang bekas besan Rasulullah Saw (karena salah satu putri Rasulullas Saw pernah menjadi menantunya). Apalagi, dalam strata keluarga, dia adalah pernah paman Nabi Saw (Sirah Nabawiyah, dan Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Akar dan Awal).
    Sifat iblis Abu yang Jahal ini, sangat melekat di dalam dirinya. Sombong, angkuh, hasud, takabbur, merasa lebih pandai, dst. Warisan dari Nabi Adam as dan Ibu Hawa. Maka Rasulullah Saw bersabda; “Kullu bani adama khatthaa’…” (setiap anak Adam itu bersalah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah, segera bertaubat). Al Kisah, iblis laknatullah telah menitipkan anaknya yang bernama “khannas” kepada Siti Hawa -saat baru diturunkan ke bumi oleh Allah Swt akibat pelanggarannya di surga. Adam sangat benci dengan titipan iblis ini. Karena Adam as selalu ingat tipu daya iblis saat di surga.
    Oleh Nabi Adam, anak iblis ini dibunuh. Tapi, setiap iblis datang, dia hidujp lagi. Begitu keadaannya, setiap habis dibunuh oleh Nabi Adam. Keadaaan seperti itulah yang menyebabkan musuh iblis ini merasa jengkel. Khannas itu-pun lalu dimakan berdua (Adam dan Hawa) -agar tidak hidup lagi. Memang benar, bayi iblis itu tidak hidup lagi menurut pandangan mata Adam dan Hawa. Namun, dia telah merasuk ke dalam daging, tulang, sungsum, urat, jaringan otak, dan bahkan ke seluruh anggota tubuh Adam dan Hawa. Berhasillah missi iblis –mengalirkan darahnya kedalam tubuh Adam dan Hawa –melalui daging, tulang, dan darah Khannas yang telah dikunyah habis tadi. Inilah penyebab, suatu saat sifat-sifat iblis yang tersebut di atas tadi, muncul dari diri Adam dan Hawa, serta anak cucunya. Maka Rasulullah mengajarkan kepada para sahabat untuk suka membaca Surat Al Falaq, agar dijauhkan dari sifat-sifat laknatullah (sepanjang zaman) itu. Kalau ada seseorang yang sering memiliki sifat-sifat sombong, angkuh, hasud, takabbur, merasa lebih pandai, dst, dia mungkin masuk golongan iblis.
    Iblis-pun tahu dan mengerti rencana Allah Swt akan memilih Adam sebagai khalifah fi al-Ardi, namun dia berat untuk bersujud kepadanya. Dia tahu betul, mana yang salah dan mana yang benar. Tetapi, tidak mau melaksanakan.
    Apalagi manusia, hidupnya yang masih dibekali hati oleh Sang Penciptanya. Apapun agama yang ia anut, dia pasti tahu dan mengakui ini yang benar dan ini yang salah; Ini yang haq dan ini yang bathil; Ini yang betul dan ini yang keliru. Kecuali penganut agama yang taqlid (buta).
    Hendaknya, kita kedepankan sifat husnuzzhan (positif thingking) kepada sesama. Seyogyanya kita hindari dorongan hawa nafsu yang cenderung kepada sifat su-uzzhan (negatife thinking). Apalagi bertindak gampang menuduh “buruk” dan berbuat hasud kepada sesama. (QS. Al Hujurat [49]: 11).
    Tidak begitu mengherankan kalau Pak Jalius (agak) jengkel kepada kaum Yahudi yang mereka hanya mengikuti hawa nafsunya. Sebagian kitab, mereka buka dan sebagian kitab, mereka sembunyikan. Namun, amat disayangkan, kalau kejengkelan sang Profesor ini ditujukan kepada umat Nabi Muhammad Saw (yang berpegang teguh kepada dua perkara [Kitab Allah dan Sunnah Nabi]). Ummat Islam adalah penerus risalah Rasulullah Saw sampai akhir zaman dengan mengharap ridha Allah Swt. Berusaha sekuat tenaga untuk menghindari sifat-sifat iblis laknatullah.
    Peringatan Allah swt agar seseorang tidak menghina orang lain sbb:
                                              
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
    [1409] Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
    [1410] panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.
    Hati siapapun tentu sulit untuk tidak mengakui bahwa kebenaran yang datang dari Allah itu pasti akan berlaku selamanya. Kalau Pak Jalius lalu mengemukan contoh Pak Harto mantan presiden RI. Benar telah berlalu masanya… Namun, menurut saya, rasanya (zaman Pak Harto) masih sangat melekat di hati masyarakat Indonesia. Zaman Bung Karno, masih terasa juga hingga sekarang. Bahkan zaman Wali Songo (Wali Sembilan-pun), masih sangat terasa atsarnya sampai sekarang, bahkan sampai nanti di akhir zaman. Apalagi, hanya (pada) zaman Pak Harto yang masih baru kemarin saja. Tentu, masih kental rasanya bagi bansa Indonesia zaman sekarang.
    Contoh nyata di lapangan. Suatu saat, saya kebetulan naik mobil di belakang sebuah truk. Tutup bak belakangnya, ada gambar Pak Harto separo badan, posisi duduk. Di depan (foto) Pak Harto itu tertulis sangat mencolok dan besar hurufnya, berbunyi: “ijek enak zamanku biyen” (bhs Jawa). Bahasa Indonesianya, “masih enak zaman saya dahulu”. Itu apa maknanya? Pak Jalius yang lebih tahu.
    Itulah suara hati yang berkembang di tengah masyarakat. Bukan-kah mereka menjadi bingung, ada orang yang tidak bersalah dimasukkan penjara. Maaf, ada orang yang terseret-seret masalah –mendapat perlindungan (selama dua tahun lebih, pada awalnya)? Masyarakat patut menjadi bingung ada pemandangan dramatis (yanga gratis) seperti itu. Andai tidak ada kritikan dari mass media atau media lainnya, bisa saja orang yang terseret namanya itu diselamatkan dengan cara disuruh pergi ke luar negeri. Atau bahkan (kalau mungkin) keluar dari dunia (ini). Apa tidak cukup membingungkan masyarakat pemandangan seperti ini?
    Di zaman yang sudah gila (maaf yang sudah gila itu bukan “zaman”nya, tapi orangnya) seperti ini, tidak cukup hanya membaca teks book saja. Namun, perlu juga membaca kenyataan di lapangan yang sudah sangat-sangat berbeda dengan teks itu.
    Apakah drama seperti ini (sengaja) mewarisi sandiwaranya Al Aziz (penguasa pemerintahan pada zaman Fira’un) dulu? Nabi Yususf As yang tidak bersalah justeru harus dijebloskan ke penjara. Keputusan seperti itu apa lalu tidak membingungkan masyarakat Mesir pada zamannya ? Dan yang mewarisi kebijakan Al Aziz itu apa tidak tahu? Al Aziz sebenarnya memang sangat-sangat mengetahui, bahwa Yusuf difihak yang benar. Dan Asiah, isteri Al Aziz dipihak yang salah. Tapi, demi kepentingan (public) maka kesalahan isterinya ditutup-tutupi. Dan Nabi Yusuf dicari-carikan (pasal) untuk dibuat salah, lalu dipenjarakan. Kisah kebijakan Al Aziz (yang tidak memihak kebenaran) ini diabadikan dalam Al Qur’an Surat Yusuf [12] ayat: 29-53.
    Sangat jelas, kebenaran (hakiki) hanya milik Allah Swt. Namun, tidak ada halangan kholifah fi al Ardhi itu membuat undang-undang atau peraturan dls untuk mengatur peri kehidupan di dunia ini agar bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.
    Ada Undang-undang atau peraturan, atau ketentuan apapun yang dibuat oleh umat manusia dengan merujuk ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya –ini yang mesti diamankan. Tidak menutup mata, bahwa ada produk hukum yang datang dari kelompok penduduk bumi ini -yang tidak mengacu kepada ketentuan Allah Swt. Ini yang tidak perlu diamankan.
    Atau bahkan mungkin ada produk hukum yang datang dari kelompok jenis binatang –untuk mengatur peri kehidupan para binatang dengan berbagai jenisnya itu –bagaimana hidup di dalam hutan. Mereka juga diberi insting oleh Penciptanya untuk mengatur hidupnya itu dengan petunjuk Tuhannya.
    Atau masih ada lagi produk hukum dari kelompok lain, misalnya jin dan sejenisnya, termasuk jenis malakut. Di sana ada Jibril –sebagai komandannya.
    Mohon maaf Pak Jalus. Ayat yang dinukil Pak Jalius مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ ۚ itu tidak relevan dengan naskah khutbah Jum’ah yang dibicarakan ini.
    Dalam Tafsir Al Maragi Juz 19, 20, dan 21, Asbab al Nuzul-nya ialah, karena adanya anggapan bagi orang-orang Arab dahulu, bahwa setiap orang yang memiliki kecerdasan dan daya hafal yang kuat mempunyai dua kalbu. Mereka sering mengatakan, sesungguhya Ma’mar Al-Fahriy mempunyai dua kalbu karena dia mempunyai daya hafal yang luar biasa. Ma’mar pernah mengatakan, “Sesungguhnya aku mempunyai dua kalbu, aku dapat memahami dengan salah satunya, pemahaman yang lebih banyak dari apa yang dipaham oleh Muhammad.” Maka Allah mendustakan hal tersebut melalui ayat ini, baik pekataan Ma’mar ataupun anggapan yang berlaku di kalangan mereka. Ayat ini ditujukan kepada Ma’mar Al-Fahriy (yang sok paling pintar) dan sombong itu.
    Saya setuju saran Pak Jalius -bacalah Al_quran itu dengan baik, agar mendapatkan pemahaman yang baik pula. Jangan dibaca hanya sebagian-sebagian saja yang menyebabkan pemahaman tidak utuh. Baca-lah berulang-ulang sampai ketemu dengan pemahaman yang betul. Tetapi, pertanyaannya, sudahkah kita bisa melaksanakan seperti itu. Kalau tidak, kemarahan besar Allah ditimpakan kepada orang-orang yang hanya pandai bicara, tetapi tidak mau mengamalkan. Sebagaimana firman-Nya:
             
    “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaaf [61]: 3)
    Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang hanya pandai bicara, tetapi tidak pandai mengamalkan yang kita bicarakan itu. Kalau hanya pandai bicara, tetapi tidak pandai mengamalkan, itu namanya lain di mulut, lain di hati. Masuk golongan apa –orang seperti ini ?
    Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Jalius yang setia dan ada waktu untuk membaca bahkan menulis komentarnya terhadap Naskah Jum’ah saya yang diterbitkan oleh e-newsletterdisdik. Saya tunggu komentar Pak Jalius lainnya, sehingga saya bisa bertambah ilmu dari beliau.
    Demikian penjelasan saya. Semoga bermanfaat.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: